Cheat Melawan Korupsi, Adakah?

Sebenarnya, berat bagi saya menuliskan topik yang satu ini. Karena apa? Jujur saja, saya sendiri belum sepenuhnya terbebas dari hal tersebut,.Meskipun begitu, saat ini saya tengah berupaya sepenuh jiwa agar terhindar darinya.Now and then. Semoga Allah meridhoi. Aamiin.

Tapi tidaklah mengapa. Tulisan ini setidaknya sebagai #selfhealing bagi saya untuk penyakit membahayakan ini.

Tapi karena sudah ditentukan mentor, ya mau gimana lagi… he he he…

***

Saya sedang tidak ingin membicarakan tagar #2019GantiPresiden yang tengah viral itu. Biarlah orang lain saja yang membahas dan membicarakannya. Berat. Saya hanya sebatas prihatin saja, mengapa Pak Jokowi terkesan begitu “emosional” dalam menanggapinya. Titik.

Yang ingin saya bicarakan adalah PR yang masih harus diselesaikan oleh pemimpin kita (presiden), siapapun itu yang akan terpilih nanti di tahun 2019 nanti.

K.O.R.U.P.S.I.

Mengapa harus bicara korupsi?

Ternyata, dari pengamatan saya, momok yang satu ini terus menghantui dalam proses bernegara di negeri ini, siapapun presidennya. Dari jaman Baheula hingga jaman Now.

Membicarakan perihal korupsi ibarat kita sedang bermain game tanpa kita tahu “cheat”nya..Tidak akan pernah berakhir. Seperti yang pernah saya alami manakala memainkan game Plants vs Zombies, dulu.

Yup, dulu. Setelah saya “memahami” game PVZ tersebut secara mendalam dan ternyata harus ada “cheat” alias kunci rahasia agar bisa “menang”.Dan akhirnya saya lebih sering baca-baca daripada main game yang membuat saya pernah kecanduan manakala ber-gadget ria. Ha ha ha…

Dikarenakan menjadi candu, maka perlu bagi kita untuk menghindarinya dikarenakan sifatnya yang merusak.sendi-sendi kehidupan.

Beneran loch. Dalam tulisan yang di muat di tirto.id yang berjudul “Catatan Buruk Korupsi di Dunia”, PBB saja sampai bilang bahwa korupsi merupakan sebuah bentuk kejahatan yang serius.

Dan berakibat pada melemahnya pembangunan sosial dan ekonomi masyarakat. Tidak tanggung-tanggung, $2,6 trilyun lenyap akibat tindakan korupsi dimana angka tersebut setara dengan 5 persen dari PDB global.

Akankah kita terus tak acuh dengan hal mengerikan ini?

Barangkali saat ini kita belum begitu merasakan dampaknya yang masif. Tapi, bagaimana dengan  anak cucu kita? Akankah mereka akan menanggung “beban masa lalu” yang ditinggalkan oleh generasi sekarang? Kita? Terlepas kita pelakunya atau kita-nya yang terkesan “membiarkan”?

Beban itu (di negeri kita) tidak hanya utang lho, yang katanya saat ini konon menurut ekonom INDEF sudah mencapai 7.000 trilyun sebagaimana yang dirilis kompas dalam berita yang berjudul “Indef : Utang Luar Negeri Indonesia Capai 7.000 trilyun”. Tapi juga beban berupa dampak sikap mental koruptif yang ada dan celakanya sifatnya laten, seringkali tidak disadari.

Lalu, apa sebenarnya korupsi itu?

Makhluk yang satu ini ternyata tidak hanya menjadi musuh di negeri ini. Sebetulnya korupsi juga  menjadi musuh bersama di belahan bumi manapun. Oleh karenanya semenjak berlakunya konvensi anti-korupsi yang disepakati PBB pada 31 Oktober 2003, sampai hari ini tanggal itu diperingati sebagai Hari Anti Korupsi Internasional.

Banyak definisi yang menjelaskan tentang kosakata yang satu ini. Silahkan di eksplore sendiri. Ada versi ensiklopedia bebas (disini) atau versi KPK yang bisa dilihat (disini). He he he…

Namun yang jelas…

Apabila saya cermati tentang pemberantasan korupsi di negeri ini, laksana orang yang tengah berjalan dalam sebuah labirin. Banyak jalan yang tidak berujung. Padahal apabila dilaksanakan dengan sepenuh hati, sebenarnya ada jalan yang bisa ditempuh untuk memberantasnya, meskipun itu sulit.Harus sepenuh jiwa. Tsah

Salah satu faktor yang menurut saya dominan adalah penanganannya lebih terpaku pada oknum, bukan pada sistem manajemennya.

Ada beberapa upaya yang sebenarnya pernah dilakukan oleh figur atau lembaga yang terbukti efektif, namun hal itupun dengan mudahnya pudar manakala belum menjadi sebuah habit. Dan lebih ironis lagi, sistem yang mulai di bangun tersebut ternyata dibuat menjadi berantakan kembali manakala berganti sosok pemimpin. Tragisnya hal tersebut terjadi di tataran kepemimpinan manapun.

Saya melihatnya, belum ada persepsi yang sama dan bagaimana penyikapannya di benak para pemimpin ataupun calon pemimpin.

Itulah mengapa, sering kita jumpai banyak orang ketika masih belum menjabat apa-apa, sosok itu begitu kritisnya, namun menjadi diam seribu bahasa manakala dia diberikan tampuk jabatan. Memang tak acuh atau benar-benar lupa alias amnesia? Saya tidak tahu.

Coba cermati deh, mana yang konsisten dan mana yang “amnesia” tersebut dengan hati yang jernih tanpa memihak. Banyak yang seperti itu baik dari pihak eksponen maupun oponen.

Itu berdasarkan pengamatan saya sih, enggak tahu kalau kamu.

Lalu, bagaimana sebenarnya kita menyikapi kondisi tersebut? Adakah cheat yang bisa kita gunakan sebagai bypass?

Menurut hemat saya, setidaknya ada 3 (tiga) formula yang bisa tempuh alias “cheat” rahasia dalam menangani korupsi tersebut. (Sekali lagi menurut saya, banyak orang yang lebih ahli dalam hal ini).

Pertama adalah PAHAM.

Yup, menurut saya ini kunci pertama. Tidak sekedar hafal atau tahu sebatas perkataan saja. Akan tetapi memahami akan maknanya terlebih dahulu.

Langkah ini perlu kita tempuh dikarenakan belum samanya persepsi diantara kita. Bahkan sesama ahli hukum lulusan kampus-kampus favorit saja bisa berbeda dalam memahami makna dari korupsi itu sendiri. Masing-masing berdasarkan persepsi sendiri, dan lebih sayang lagi apabila itu didasarkan pada “kepentingan” yang umumnya bersifat jangka pendek. Sebuah “pesanan”.

Oleh karena itu, menurut hemat saya, hal untuk memahamkan terkait korupsi ini menjadi PR besar bagi penulis-penulis terkenal dan jago story telling agar masyarakat bisa dengan mudah mencerna dan memahami apa sebenarnya hakikat korupsi tersebut tentang korupsi dan bahayanya. Baik ditujukan untuk orang dewasa maupun anak-anak.

Kedua adalah membangun HABIT.

Membangun habit ini tidak sekaligus dengan hal-hal berat ataupun besar. Kita bisa memulainya dari hal kecil dan yang ringan saja. Apabila kita dapat melakukannya secara bertahap dan konsisten, Insya Allah hasilnya akan luar biasa. Diluar ekspetasi kita. Apalagi dimulai dari anak-anak.

Ada sebuah cerita yang jujur saja saya lupa memperolehnya kapan dan dimana.

Dikisahkan ada sepasang orang tua yang mencoba mengajarkan kejujuran terhadap kedua anaknya. (Agar mental korupsi tidak tercetak di benak-anak-anaknya).

Cara melatih kedua kakak beradik tersebut adalah dengan memahamkan semejak awal tentang hak masing-masing. Dalam hal ini terhadap kepemilikan akan sebuah barang.

Apabila sang kakak memiliki sepotong roti di kulkas, misalnya. Maka sang adik (dan tentu bagi ayah dan ibunya) tidak boleh mengambil dan memakannya tanpa ijin. Apabila sudah bilang dan diperbolehkan untuk mengambilnya, baru boleh mengambilnya.

Demikian juga sebaliknya.

Dan ternyata itu dapat berhasil membangun mental positif bagi anak sekaligus orang tua yang mengajarkannya.

Kemudian, ada satu contoh menarik agar kebiasaan ataupun habit positif ini menjadi sebuah watak yang terinternalisasikan dalam sikap dan perilaku mereka manakala dewasa.

Dan ini saya sudah membuktikannya.

Dalam sebuah postingan facebook mas Miftah Ridho Anshari, yaitu dengan meNULISkannya. Dari tulisan biasa, dampaknya menjadi luar biasa.

Yup, Tulisan tangan ya. Bukan diketik atau di print.

Beliau benar-benar memberikan sebuah pengalaman yang nir teroritis. Jauh dari berbagai teori seperti VAK, The Power of List, The Power of Three (five, seven) ataupun terori-teori habit yang lain. (Untuk lebih lengkapnya, silahkan di cermati di lini masa facebook beliau).

Kuncinya, praktek. Dan tidak sampai 5 menit koq !

Dan saya terkejut, ada perubahan terhadap kebiasaan sebelum tidur anak saya (usianya baru 7 tahun, kelas 1 SD).

Suatu malam saya mencoba mempraktekkannya. Tidak semua list seperti yang dicontohkan oleh Pak Miftah. Saya mencoba satu dulu, dari kebiasaan sebelum tidur.

Wajahnya berbinar sekali saat itu.

Saya beri contoh menulis, dia menirukannnya di kertas berbeda. Dan kami tempel berdampingan di tempat yang mudah terlihat.

Persiapan Sebelum Tidur <1. Pipis dulu, 2. Sikat Gigi Dulu, 3. Wudhu dulu, 4. Berdoa dulu dan terakhir (5), matikan lampu>

Saya mencontohkannya dan dia mengikuti.

Dan malam-malam berikutnya saya tinggal mengingatkan apa yang sudah di tulis dan ditempel di tempat yang mudah dilihat.

Alhamdulillah, dia bisa menetapinya meskipun dalam keadaan capek sekalipun.

Pernah suatu ketika kami mengajaknya jalan-jalan dan pulang larut, sekitar jam 10. Sesampainya di rumah, dia sudah “teler”.

Ajaibnya, ketika saya bisiki, mengingatkan tentang apa yang sudah di tulis dan di tempel, dia mau melakukannya.

Subhanallah.

Saya pikir, ini bisa diaplikasikan untuk mengikir watak koruptif semenjak dini seperti yang saya contohkan dari kisah sebelumnya.

Membangun watak melalui habit ini menurut saya sangat mujarab.

Banyak contohnya. Masih banyak orang yang tulus dan baik di negeri ini. Banyak kita jumpai, apabila kita peka “membacanya”.

Kedua adalah memulai dari DIRI SENDIRI.

Kelihatannya jurus terakhir ini klise banget. Tapi, sebenarnya powerfull banget loch.

Bisa jadi terkesan klise dan tidak pernah dimulai dikarenakan kurangnya memahami diri sendiri.

Coba ingat-ingat, perilaku koruptif yang pernah kita lakukan selama ini.

Mengurus KTP, nitip? Coba dech diurus sendiri.

Perpanjangan STNK, nembak? Coba dech proses sendiri.

Jam kerja belum selesai tapi hasrat pulang dulu? Coba dech, tahan dulu.

Dan lain-lain.

Masing-masing kita yang lebih paham.

Insya Allah mudah koq. Kata AA Gym, mulai dari yang kecil, dari diri sendiri dan sekarang juga.

Jangan lupa, terus istighfar dan berdoa. Beneran nich. Serius.

***

Akhirnya, sebaiknya kita merenungi diri sebelum lantang berteriak korupsi dan nyinyir terhadap pelaku korupsi. Terlepas benar atau tidak mereka melakukannya. Disadari atau memang karena sebuah keterpaksaan.

Apakah kita benar-benar bebas korupsi atau sama saja bahkan lebih parah dari mereka. Berapapun nilai korupsi yang kita lakukan.

Semuanya kembali pada diri kita. Tinggal memilih. MAU atau TIDAK.

Selamat malam…

 

Perbatasan Malang – Kediri,9 April 2018

19.59

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: