​Manakala Plagiasi Mulai Membudaya, Kita Harus Ngapain?

Dulu, ketika sedang heboh-hebohnya ANF dengan beberapa tulisan plagiatnya dan begitu viral hingga membuat sosok fenomenal tersebut di undang oleh Presiden, saya tak acuh.
Menuliskannyapun tidak tertarik. Meski hanya sekedar status singkat saja.

Saya hanya mencoba berprasangka baik, bahwa dia memang ditakdirkan oleh Allah untuk melalui proses tersebut agar dikenal oleh seluruh publik di Indonesia. Sepenggal perjalanan kisah hidupnya tersebut barangkali dapat diperbandingkan dengan pepatah Arab yang berbunyi Bul ‘alaa zamzam Fatu’raf,yang artinya kencingi sumur zam-zam, maka engkau akan terkenal.

Terlepas hal tersebut disadari atau tidak oleh AFI. Entahlah.

Namun, akhirnya kini saya tergerak untuk menulis tentang plagiarisme ini (meskipun, barangkali saya juga pernah melakukannya di saat kuliah dulu). Setidaknya sebagai bahan perenungan dan introspeksi bagi diri.

Pilihan untuk ikut nimbrung membahasnya, semula berawal ketika saya membaca salah satu blog seorang kawan yang tengah membahas mengenai kejadian serupa. Judulnya Skill, Koq Njiplak ! 

Jujur saja, saya tidak tahu akan kabar yang sedang menjadi bahan perbincangan di kalangan penulis atau orang-orang yang  tengah belajar menulis, jika saja saya tidak membaca blog tersebut. (sampai-sampai saya japri penulis blog tersebut agar tahu sosok tersurat yang ada di dalam tulisannya, he he he..)

Ternyata, ED namanya.

Setelah saya mencoba mengelaborasi dari beberapa sumber daring, tahulah saya bahwa dia telah melakukan sebuah tindakan nekad dan tidak terpuji.  Tidak tanggung-tanggung, 24 karya sastra. Hanya agar bisa terkenal secara instan. Atau ada alasan lain, saya tidak tahu. Entahlah.

Oiya, satu contoh lagi terkait dengan plagiasi yang sempat viral terlepas benar atau tidaknya dan sayangnya dilakukan oleh seorang pejawat public yang juga seorang  akademisi dari salah satu kampus favorit negeri ini.  AA nama beliau. Apesnya, integritas yang dibangunnya selama ini luntur hanya karena tulisan yang dimuat dalam rubrik opini Kompas tersebut. 

Sebagaimana halnya ANF, kasus yang menimpa ED dan Pak AA disamping ada yang mencaci ternyata ada pula yang membela. Saya berusaha melihat dari sudut pandang yang berbeda.
Tidak Ada Ide yang Orisinil 100 %

Lantas bagaimana kita menyikapinya?

Menurut saya, tindakan yang dilakukan mereka tidak dapat berdiri sendiri. Kondisi dan sistem yang ada turut mempengaruhi. Untuk itu, agar kita terhindar darinya, selain kita patri dalam diri untuk menjauhinya, perlulah kita mengetahui dam memahami apa sebenarnya plagiarism itu. Salah satu tulisan yang membahasnya ada dalam tulisan yang berjudul “Panduan Anti Plagiarisme” yang dirilis oleh UGM layak kita simak. Semoga dapat kita baca dan resapi bersama.

Selain itu, bisa jadi awalnya semua yang dilakukan oleh mereka dikarenakan oleh mampetnya ide atau dalam dunia kepenulisan disebut dengan “writers block”. Sebuah mitos yang selama ini menghantui para penulis dan orang yang sedang bertransformasi menjadi seorang penulis dimana mereka merasa blank, miskin inspirasi dan peristiwa tak enak lainnya di tengah hasrat menulisnya yang tengah membumbung tinggi.

Sesuatu hal yang sebetulnya bisa dihindari jika kita tahu caranya, dan ini diulas dengan lengkap dalam salah satu mantra yang dituliskan oleh Brili Agung didalam bukunya yang berjudul “Kitab Penyihir Aksara”.

Janganlah plagiat, tapi ambillah gagasan orang lain dari mana saja asalnya, bisa dengan mengobrol, media sosial, nguping meja sebelah, dan lain sebagainya.

Memang, tidak ada di dunia ini yang orisinil 100 %. Semuanya saya kita melalui proses yang dinamakan ATM (Amati Tiru dan Modifikasi). Namun, para pelaku plagiasi itu tersesat di langkah terakhir sehingga proses yang dilaluinya bukan ATM melainkan ATP GaJudaPen, Amati, Tiru Plek  … dan Ganti Judul dan Penulisnya… hehehe)

Padahal ide itu jika kita mau menggalinya,  bukan sesuatu yang susah-susah amat sebetulnya.

Kita bisa simak tulisan Mas Eka Kurniawan yang menurut saya juga dapat memberikan sudut pandang berbeda tentang “kebuntuan ide” yang berjudul “Bagaimana Penulis Mendaur-Ulang Cerita Penulis Lainnya Menjadi Kisah baru yang Memikat”.

Kemudian ada saran yang diberikan oleh Mr. Toyota dalam prinsip ke-12 dari Toyota Way yang berbunyi “Pergi dan lihat sendiri untuk memahami situasi yang sebenarnya”.

Insya Allah itu akan memperkaya.  Serap energi yang ada di alam, imbuh Brili Agung di dalam bukunya.

Dan bukankah jelas termaktub dalam Alquran QS Al Kahfi ayat 18 yang redaksinya sebagai berikut :  Katakanlah (wahai Muhammad), “Sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Rabbku, sungguh habislah lautan itu sebelum kalimat-kalimat Rabbku habis (ditulis), meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula). 

Dan QS Luqman 27 yang  berbunyi  “Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya kalimat Allâh tidak akan habis ditulis.”

So, masih bingung mau nyari inspirasi dalam menulis? 

Saran saya, beli dan baca bukunya mas Brili dech. Cekidot… 

Akhirnya, saya berharap kita tidak mengambil jalan serupa seperti yang dilakukan oleh beberapa contoh yang telah di ulas. Semoga kita tidak seperti yang disampaikan IJP dalam akun twitter-nya manakala menyikapi kehebohan Pak AA, “Ibarat pendaki, ia terjatuh di batu kerikil”. 

Silahkan berimprovisasi tapi tetap sadar diri. Mawas diri kapanpun dan dimanapun.
Perbatasan Nganjuk-Kediri, 7 April 2018. 14.14 WIB

– Sebagai teman pelepas penat perjalanan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: