Perjalanan Melintas 3 Wilayah

Perjalanan melintasi ruas tol yang baru saja diresmikan oleh Presiden Jokowi beberapa hari yang lalu menjadi pengalaman tersendiri bagi saya. Sebuah perjalanan yang mungkin tidak dapat saya ulang kembali karena momennya yang cukup spesial.

Momen apakah itu? 

Momen dimana setiap pengguna tol yang melintas berdasarkan SOP yang ada akan dibebaskan biayanya alias gratis. He he he… Setidaknya untuk durasi dua minggu.

Pada saat membaca berita menjelang peresmiannya, saya sempat bergembira dikarenakan ruas yang bisa dilalui adalah dari Ngawi hingga Kertosono. Artinya, saya akan melewati tiga wilayah sekaligus dengan durasi waktu yang lebih cepat tentunya. Wilayah tersebut adalah Kabupaten Ngawi, Kabupaten Madiun dan Kabupaten Nganjuk.

Namun, ternyata tidak sepenuhnya sesuai dengan ekspetasi saya. Bukan Kertosono sebagai titik akhir perjalanan tersebut, namun hanya sampai Wilangan saja yang artinya melewati kota Nganjuk saja belum.

Tapi tidaklah mengapa. Saya yakin banyak hikmah didalamnya, dan ternyata memang menghiasi perjalanan saya setelahnya hingga hari ini.

Alhamdulillah.

Ada beberapa catatan yang bisa saya tuangkan (setidaknya untuk memenuhi kuota menulis saya di 30DWC biar tidak ter- DO, ha ha ha…) didalam tulisan ini.

Yang menjadi poin adalah terkesan dipaksakannya peresmian tersebut, meskipun dalam beberapa berita yang lalu ditargetkan Pebruari 2018 sudah dapat beroperasi. Dan ternyata memang baru “siap” diresmikan pada 29 Maret kemarin.

Catatan apa saja itu?

(Ini ceritanya sedang belajar menjadi penulis investigatif, he he he)

Pertama adalah masih banyaknya sisa material yang dibersihkan untuk ruas-ruas yang sudah siap, menurut saya. Bahkan beberapa ranting kering sempat saya jumpai.

Yang kedua adalah masih melintasnya orang di jalan tersebut dan untungnya saya memacu kecepatan di batas terbawah. Padahal beberapa hari yang lalu, pasca diresmikan oleh Presiden, masih ditemui beberapa kendaraan roda dua yang melintas sebagaimana diberitakan oleh beberapa media.

Ketiga adalah masih belum optimalnya mesin pembaca kartu tol. Pada saat pertama masuk dari Ngawi, kartu saya terbaca dengan saldo yang relatif masih banyak. Namun di titik keluar kartu saya tidak terbaca. Beruntung antrian di belakang saya hanya ada satu kendaraan yang mengantri. Selain itu masih ada petugas yang membantu menyelesaikan permasalahan yang saya hadapi.

Keempat, masih banyak titik-titik yang ternyata belum sepenuhnya selesai. Terbukti setelah saya melewati permasalahan dengan mesih pembaca kartu, saya harus menyalakan lampu hazard. Masih ada kendaraan yang memindahkan balok-balok beton pengaman. Dan akhirnya sayapun menunggu setidaknya untuk 10 menit. Sesuatu yang aneh menurut saya untuk kejadian di jalan tol. Dan ternyata ruas sebelah yang berlawanan juga masih ada pekerjaan konstruksi, yaitu memadatkan tanah di bagian pinggir.

Kelima, tentang rest area yang belum jadi dan masih banyak lagi apabila terkait dengan faktor non teknis, seperti penentuan tarif dan regulasi yang ternyata masih belum clear.

Demikian Laporan pandangan mata dari jalur tol Ngawi-Kertosono, eh… Wilangan ding…

Semoga menjadi media pembelajaran untuk semuanya saja.

Oiya, pemandangannya indah loh. Swear.

Selamat malam…

Pare, 7 April 2018

#30DWC_Jilid12_Squad6_Day15

#Tema : Perjalanan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: