Kisah Cinta Sun Kang

Menumbuhkan kesadaran untuk gemar membaca perlu terus dilakukan agar menjadi budaya yang kuat di lingkungan kita. Setidaknya dimulai dari diri sendiri.

Namun, hal tersebut tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Oleh karena itu, kitapun perlu untuk terus memotivasi diri dengan melihat hikmah di sekitar kita dan membaca kisah-kisah inspiratif yang ada.

Salah satu kisah yang menurut saya mampu menggugah semangat membaca kita adalah kisah cinta SUN KANG YANG. Kisah yang satu ini begitu fenomenal di negeri asalnya, China. Kisah cinta Sun Kang terhadap buku dan gairah membacanya ini sudah berkembang dari mulut ke mulut dan dari generasi ke generasi. Itulah mengapa bangsa China termasuk bangsa pembelajar dan berwawasan luas dikarenakan “doktrin” membaca yang diberikan sedari kecil. Bahkan, ada hadis yang populer (meskipun dhaif) yang menyebutkan bahwa tuntutlah ilmu sampai ke negeri China, menegaskan bahwa China memang negeri pembelajar. Oleh karena itu, kitapun juga harus demikian.

Lalu, seperti apa kisah cinta sejati Sun Kang dengan kegiatan membacanya?

Dikisahkan bahwa Sun Kang hidup pada zaman Dinasti Jin yang berkuasa di kisaran tahun 317 – 420 Masehi.

Kepandaian Sun Kang sudah terlihat semenjak kecil meskipun dia berasal dari keluarga yang sangat miskin (bahkan bisa dikatakan termiskin di wilayahnya) sampai-sampai minyak untuk lampu pun tidak sanggup terbeli oleh keluarganya. Membuat malam-malam yang dilalui keluarga Sun Kang akrab dengan gulita tak bertepi.

Selain itu, Sun Kang juga setiap harinya harus membantu orang tuanya untuk bekerja demi menyambung hidup keluarganya. Dan itu harus dijalaninya sampai malam hingga kelelahan melanda.

Namun, itu semua tidak mengurangi cinta dia terhadap membaca. Dia tetap meluangkan waktu untuk membaca buku yang dipinjamnya dari tetangga sekitar. Dia menyiasatinya dengan membaca ketika sinar rembulan menampakkan diri. Namun, karena keterbatasan sinar rembulan, matanya sering lelah dan tidak dapat membaca dalam durasi waktu yang panjang. Satu yang patut kita jadikan pelajaran, dia senantiasa mengembalikan bukunya tepat pada waktunya.

Hingga suatu hari di musim salju dan sinar rembulan menerangi dengan sangat baik, dia terus menetapi cintanya terhadap buku. Sepulang membaca, dia terjatuh hingga kakinya terluka. Namun ada hikmah dibalik peristiwa tersebut. Ternyata, salju yang padat dapat memantulkan sinar sehingga bisa membuat cahaya lebih terang dari sinar rembulan.

Akhirnya, dia memanfaatkan momen tersebut dengan membaca setiap malamnya di musim dingin yang menyengat. DONG CHUANG yang menjangkitinya, tidak memudarkan rasa cintanya.

Perlu diketahui, dong Chuang adalah semacam penyakit borok di kulit yang biasanya menyerang ketika musim dingin tiba. Dan apabila sudah terserang, maka borok tersebut akan menyebar ke seluruh tubuh dan tidak bisa sembuh sampai dengan musim dingin usai.

Akhirnya, Sun Kang dikenal sebagai ahli pikir yang brilian dan dijadikan penasihat yang baik untuk membangun kerajaan.

***

Demikian kisah cinta Sun Kang terhadap buku dan proses membacanya. Menegaskan bagi kita bahwa cinta apabila dijalani dengan ketulusan maka seberat apapun rintangan yang dilalui dan di hadapi akan terasa ringan dan mampu dilewatinya. Akhirnyapun ada kebahagiaan yang diperolehnya.

Selamat pagi…

– Kendal, 4 April 2018

#30DWC_Jilid12_Squad6_Day13

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: