Antara Pigura, Buku dan Kisah Cinta Bung Hatta

Pigura

Dua pigura besar terpampang di samping kanan dan kiri meja resepsionis gedung itu. Sosok salah satu proklamator bangsa Indonesia nampak gagah di pigura tersebut. Sekokoh idealisme dan kecintaannya terhadap buku. Itulah mengapa gedung perpustakaan itu berdiri dengan nama beliau, dipersembahkan untuk dedikasi beliau terhadap negeri.

Bung Hatta… ya, Perpustakaan Proklamator Bung Hatta yang berlokasi di Jl. Kristina Bhakti, Gulai Buncah, Bukit Tinggi, Sumatera Barat.

Namun, tak hanya perpustakaan di Bukit Tinggi saja yang menjadi saksi sejarah beliau.

Di Jalan Diponegoro 57 Jakarta Pusat, buku-buku koleksi Hatta juga tersimpan rapi dalam bentuk perpustakaan yang terawat baik di rumah keluarga Hatta tersebut.

Nampak jajaran rak buku yang dipenuhi oleh buku-buku yang pernah dibaca oleh Bung Hatta. Ada pula pigura-pigura yang menghiasi ruangan itu sebagai penyaksi sejarah perjalanan hidup beliau. 

Ya, gambar dalam pigura tersebut menggambarkan begitu banyak cerita dan makna (kalau mau mencermati dan merenunginya). Bukankah ada pepatah yang mengatakan bahwa gambar mewakili 1.000 kata?

Selain itu kita juga bisa menembus dimensi waktu melalui ragam foto yang terpajang rapi dalam bingkaian pigura-pigura yang berada di rumah kelahiran beliau. Kita dapat menapaktilasi kehidupan beliau di rumah yang terletak di pinggir jalan Soekarno-Hatta No. 37, Bukit Tinggi. Ada goresan sejarah yang mendalam , sebab seorang anak bangsa terlahir dan besar didalamnya.

Buku

Muhammad Hatta pertama kali mengoleksi buku pada saat berumur 17 tahun yaitu ketika menempuh Sekolah Dagang di Batavia, sekitar tahun 1919.

Buku-buku koleksi Hatta sangat beragam bahasanya dari bahasa Inggris, Perancis, Belanda hingga Jerman. Ini menandakan kemampuan berbahasa beliau.

Diantara buku-buku tersebut merupakan harta karun yang dibawanya sepulang studi di Belanda. 

Bahkan disaat beliau diasingkan oleh pemerintah kolonial Belanda, beliau tidak mau terpisah jauh dari buku-bukunya tersebut. Semua buku yang jumlahnya sekitar 16 peti dibawanya di Banda Neira sampai Boven Digoel, tempat pengasingannya.

Itulah mengapa, ada satu pernyataan beliau yang sangat terkenal hingga kini yaitu “Aku rela di penjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas”.

Kisah Cinta

Beliau merupakan tipe orang yang pendiam dan tidak banyak berhubungan dengan perempuan.

Bahkan beliau pernah bersumpah bahwa tidak akan menikah sebelum Indonesia bisa merdeka.

Dan sumpah itu ditetapinya tiga bulan setelah beliau memproklamirkan kemerdekaan bangsa Indonesia bersama Soekarno di tahun 1945. Beliau menikahi gadis yang diperkenalkan oleh Soekarno, namanya Rahmi Rachim.

Dan yang menjadi catatan unik adalah mahar yang diberikan pada saat menikah adalah buku hasil tulisan beliau semasa diasingkan oleh Belanda, meskipun beliau dari keluarga yang berada. Judul bukunya adalah Alam Pikiran Yunani.

Mengetahui kecintaan Hatta terhadap buku dan pengetahuan yang dianggapnya lebih berharga daripada harta benda lainnya, teman-teman sejawatnya kerap berseloroh bahwa Rahmi hanya istri keduanya. Semangat istri pertamanya adalah “buku”.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: