Membaca Cepat atau Lambat?

Dalam mahdzab membaca, setidaknya ada dua pandangan dalam hal pola dan kecepatan membaca sebuah buku. Di satu sisi saat ini marak pelatihan dan kursus yang memberikan tips dan trik bagaimana membaca cepat. Tentu dengan biaya yang tidak murah. Namun ada beberapa pihak yang lebih memilih untuk membaca dengan lambat. Bahkan ada yang membaca berulang-ulang buku yang tengah dia baca.

Menurut saya diantara keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Tinggal bagaimana kita menyikapinya. dalam arti, waktu yang kita pilih untuk membaca, jenis buku apa yang di baca dan tebal tipisnya suatu buku yang sedang di baca tentu akan berpengaruh pada kecepatan membaca seseorang.

Membaca Cepat

Manusia modern yang kesehariannya dituntut serba cepat dan didukung dengan berbagai tekhnologi yang ada kebanyakan menginginkan sesuatu dengan serba instan dan mulitasking. Selain bacaan dari buku-buku dalam bentuk fisik, buku-buku elektronik yang jumlahnya demikian banyak dengan mudahnya diperoleh.

Keberlimpahan informasi tersebut memunculkan gagasan untuk membaca dengan cepat. Sang pembaca harus memiliki ketrampilan dalam mengumpulkan data dan informasi dengan cepat sekaligus benar. Meskipun membaca cepat, mereka berkeyakinan dengan teknik yang digunakan, esensi dan pemahanan dari sebuah buku tetap dapat diambil.

Beberapa metode yang muncul diantaranya scanning, skimming, SQ2R dan yang lainnya. Untuk lebih lengkapnya silahkan di eksplorasi sendiri ya. He he he..

Membaca Lambat

Bertolak belakang dari orang yang ingin serba cepat, ada sebagian orang yang meyakini membaca lambat adalah yang terbaik.

Bagi mereka, membaca bukan saja kegiatan mengeja kalimat-kalimat dalam buku, namun bagaimana proses tersebut dapat memahami makna literal maupun kontekstual dari setiap kalimat yang di cerna.

Kecepatan membaca bukan hal yang relevan. Mengapa? Sebab, dalam membaca yang lebih penting adalah seberapa dalam si pembaca memahami isi dan gagasan-gagasan yang tertuang didalamnya dan seberapa berpengaruh buku tersebut pada cara pandang pembaca terhadap poin-poin yang ada dalam buku tersebut.

Menjadi hal yang pencuma dan amat disayangkan apabila membaca buku yang bisa jadi mempunyai ketebalan yang banyak dalam waktu yang singkat namun ternyata si pembaca tidak mampu menyerap gagasan-gagasan yang dihadirkan. Terlebih lagi tidak ada dampak apa-apa yang dirasakan oleh si pembaca.

Bahkan ada sebuah klub baca buku yang ada di Wellington, Selandia Baru bernama Slow Reading Club yang menjadikan membaca lambat dengan fokus membaca tanpa gangguan dari hal lain, menjadi pilihan mereka. Jadi hanya ada mereka dan buku. Tidak ada yang mendua dengan ponsel yang berdering ataupun notifikasi-notifikasi media sosial lainnya yang ada di ponselnya. Kegiatan me time dengan buku tersebut bisanya dilakukan di kafe-kafe. Mereka asyik membaca setidaknya selama satu jam dengan kondisi ponsel yang mati. Berani?

Oiya, kelompok membaca lambat ini meyakini bahwa pola yang mereka pilih mampu meningkatkan konsentrasi membaca mereka, meredakan stres yang melanda dan menambah kemampuan berpikir mereka, melatih kemampuan dalam mendengarkan dan memupuk rasa untuk dapat berempati.

– Kendal , 27 maret 2018

#30DWC_Jilid12_Squad6_Day3 (utang)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: