21 Pebruari

Kalender resmi United Nations tentang Hari Internasional disebutkan bahwa hari ini, 21 Pebruari adalah hari Bahasa Ibu Sedunia. Selengkapnya, bisa dibaca dalam tulisan sahabat saya yang berjudul “21 Pebruari; Hari Bahasa Ibu Sedunia

Namun, dalam tulisan ini saya tidak akan membahas mengenai Bahasa Ibu. Akan tetapi satu benda/masalah yang akrab dengan keseharian ibu-ibu. Benda atau masalah tersebut adalah sampah.

13 tahun yang lalu (21 Pebruari 2005), sampah yang menggunung di TPA Leuwigajah, Cimahi, Jawa Barat, longsor. Ironisnya, akibat kejadian tersebut, satu desa tertimbun dengan korban meninggal dunia sebanyak 147 orang (ada yang menyebutkan 150).

Sebuah peristiwa kelam dalam sejarah bangsa kita. Hingga akhirnya setiap tangggal 21 Pebruari diperingati sebagai hari peduli sampah nasional.

***

Permasalahan yang satu ini setiap tahunnya sepertinya tidak kunjung tuntas. Doktor dan Master dalam bidang lingkungan setiap tahunnya dilahirkan dari rahim dunia akademis di negeri ini. Bahkan sebagian dari mereka juga fokus meneliti tentang sampah sebagai bahan studinya.

Namun, di sisi lain, berita mengenai sampah yang menjadi permasalahan sosial di masyarakat terus saja ada.Republika pda awal tahun 2017 menyebutkan bahwa setiap hari Indonesia memproduksi sampah sebanyak 65 juta ton. Berita terbaru yang dilansir oleh Jawa Pos, menyebutkan bahwa di Surabaya saja,sampah plastik yang dihasilkan sebanyak 400 ton per hari.

Ternyata terjadi gap antara dunia akademisi dan realitas yang ada di lapangan.

Salahkah mereka?

Menurut saya, tidak sepenuhnya salah. Sebab, permasalahan yang satu ini terjadi sangat kompleks. Banyak elemen yang terlibat.

Sayang, menurut saya, peran pemerintah dalam hal ini belum totalitas. Hanya sekedar formalitas, termasuk dengan kegiatan-kegiatan seremonial yang diselenggarakan setiap hari Sampah, Hari Bumi atau hari-hari yang lainnya diperingati.

Untuk itu perlu ada upaya serius dari seluruh elemen dalam mengatasi silent enemy yang suatu saat akan menjadi bom waktu sampah apabila tidak dikelola dengan baik.

Bagaimana caranya? Semoga semua elemen terkait dapat duduk bersama untuk mulai mengurai benang kusut permasalahan sampah tersebut. Kalau perlu dibuat semacam KPKnya sampah, yaitu Komisi Pemberantasan Sampah.

Untuk mengurai permasalahan korupsi saja negara rela mengeluarkan dana milyaran rupiah, mengapa untuk menangani sampah tidak demikian juga?

Terakhir, marilah mulai dari kita untuk bijak megelola sampah dari rumah kita masing-masing. Sebab, semuanya bersumber dari rumah-rumah kita. Apabila dapat dikelola dengan baik dari sumbernya, maka saya yakin menggunungnya sampah di TPA tidak akan terjadi.

Semua tergantung dari niat dan kemauan. Sekarang kembali pada diri kita. Mau atau tidak?

Selamat malam

– Kendal, 21 Pebruari 2018

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: