Zona Nyaman yang Hakiki

Apa sih sebetulnya yang disebut dengan zona nyaman?

Adakah suatu kondisi yang betul-betul dinamakan zona nyaman?

Definisi pastinya menurut saya masih  debatable. Mengapa? Sebab masing-masing kita memiliki persepsi yang berbeda-beda.

Ada yang menyarankan agar kita keluar zona nyaman. Dengan meninggalkannya dan menuju zona yang baru akan ada tantangan baru. Apabila tantangan baru tersebut dapat kita selesaikan maka akan muncul kepuasan di sana.

Ada pula yang anti dengan istilah “keluar” dari zona kenyamanan. Zona nyaman koq ditinggalkan. Terlalu naif katanya. Yang benar menurut mereka adalah memperluas zona nyaman.

Saya tidak akan mengajak anda untuk mendukung pendapat mana benar. Relatif menurut saya. Kembali ke diri masing-masing. Tergantung pada persepsi, keyakinan dan tujuan hidupnya.

***

Tahukah kamu semenjak kapan istilah zona nyaman atau comfort zone  itu sebetulnya mulai dikenal?

Menurut “Merriam Webster”, istilah comfort zone  pertama kali digunakan pada tahun 1923. Lalu, menurut kamus tersebut, sebenarnya apa sih definisinya?

a place, situation, or level where someone feels confident and comfortable

Merujuk pada definisi tersebut, maka dapat diketahui bahwa comfort zone adalah situasi dimana ada rasa di situ. Ada keyakinan didalamnya. Ada kenyamanan sana.

***

Menurut saya, jika zona nyaman itu adalah kekayaan yang berlimpah,  sepertinya salah.

Tidakkah anda mengetahui kisah tentang Aristoteles Onasis? Orang yang memiliki kekayaan yang apabila dibagi untuk tujuh keturunannya tidak akan pernah habis. Nyamankah dia dalam posisi itu? Ternyata tidak. Tidak uang berlimpah, tidak deretan pulau yang dimilikinya, tidak pula lusinan kapal pesiar dan jet pribadinya yang membuatnya nyaman. Hingga mahligai keluarganya pun tidak langgeng. Dia bercerai dengan istrinya. Demikian pula Christina, anak perempuannya. Diketahui bahwa Christina dalam 16 tahun telah nikah cerai sebanyak 4 kali. Ternyata kebahagiaan dan zona nyamannya semu. Dia tidak pernah menerima kasih sayang yang tulus.

Dan banyak kisah lainnya jika kita mau “membaca” peristiwa-peristiwa di sekitar kita.

Menurut saya, jika zona nyaman itu adalah sebuah ketenaran, sepertinya juga salah.

Tidakkah anda mengetahui kisah para selebritis dunia yang terkenal di dunia yang mengakhiri kehidupannya di dunia denga bunuh diri? Saaat di puncak karirnya?

Bagi anda penggemar k-pop  tentu tak asing dengan nama Jonghyun “SHINee”, Cho Geum San,Jang Ja “Sunny” Yeon, Sojin KARA dan yang lainnya. Bagi penggemar Linkin Park tentu tak asing dengan Chester Bennington. Adapula Vokalis Nirvana, Kurt Cobain sampai dengan Elvis Presley.

Kesemuanya mengakhiri hidupnya dengan tragis.

Ternyata ketenaran yang bagi sebagian orang merupakan zona nyaman, sekali lagi tidak membuat mereka nyaman.

Dan banyak kisah lainnya jika kita mau “membaca” peristiwa-peristiwa di sekitar kita.

Menurut saya, jika zona nyaman itu adalah kepuasan,  sepertinya juga salah.

Tahukah anda dengan Neymar, yang sosoknya pernah saya singgung dalam tulisan saya yang berjudul “Yang Mengubah Segalanya”. Ternyata gaji milyaran dalam sepekan (kurang lebih 42 milyar) belum membuat dia puas. Dia terus ingin “keluar” dari zona nyaman.  Belum semusim dia berseragam Paris Saint Germain (PSG), ternyata godaan untuk pindah klub yaitu Real Madrid (rival seteru abadi kub Neymar sebelumnya, Barcelona) menghantuinya. Sepertinya dia belum puas dengan kondisi dan performa sekarang. Bisa jadi pertemuan PSG dan Real Madrid pekan ini di babak 16 besar Liga Champion 2017/2018 menjadi media “terselubung” untuk memuluskan proses transfernya ke Real Madrid. Ternyata kepuasannya dalam berkarir masih belum membuat nyaman dirinya.

Dan banyak kisah lainnya jika kita mau “membaca” peristiwa-peristiwa di sekitar kita.

***

Dari beberapa kisah tersebut, ternyata benar adanya bahwa di dunia ini tidak ada yang benar-benar dinamakan zona nyaman.

Benarlah firman Allah dalam Alqur’an QS. Al Ma’arij ayat 19 yang artinya “ Sungguh, manusia diciptakan bersifat suka mengeluh”.

Dan dilanjutkan di ayat-ayat berikutnya bahwa manusia itu apabila ditimpa kesusahan dia berkeluh kesah dan apabila mendapatkan kebaikan (harta) dia jadi kikir.

Tapi, ada kecualinya…

Yaitu orang-orang yang melaksanakan sholat dan mereka tetap setia melaksanakan sholatnya.

Ada pula hadits Abu Daud dan Ahmad, artinya, “Wahai Bilal, Istirahatkan kami dengan shalat.” Rasulullah mengistirahatkan diri dengan sholatnya.

Terakhir…

Menurut saya, zona nyaman yang sebenarnya adalah zona dimana ketenangan jiwa itu bersemayam. Manakala kita bisa menempatkan segala sesuatunya pada tempatnya.

“Maka, seimbanglah dalam menilai sesuatu karena itu akan menenangkanmu. Karena tak ada ketenangan yang abadi selain ketenangan ketika dekat dengan Rabb melalui sholat dan bacaan quran mu”

Zona nyaman adalah fata morgana, apalagi di dunia yang fana ini.

Itu definisi zona nyaman menurut saya. Tidak tahu dengan anda. Semua pilihan kembali pada diri kita.

– Selamat pagi… met beraktifitas.

– Kendal, 13 Pebruari 2018 

#30dayswritingchallenge #30DWC #30DWCjilid11 #squad8 #day22

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: