Dust In The Wind

Same old song, just a drop of water in an endless sea

All we do crumbles to the ground, though we refuse to see

Dust in the wind, all they are is dust in the wind

Itulah sepenggal lirik  dari lagu yang pernah dipopulerkan oleh Scorpion sekitar tahun 2001, saat saya masih kuliah dulu. Namun demikian, sebetulnya lagu tersebut sudah pernah nge-hits sekitar tahun 1977. Dipopulerkan oleh penyanyi pertamanya, KANSAS.

Lagu yang satu ini bukan hanya sekedar lagu biasa yang umumnya berkonten mengenai cinta beserta pernak-perniknya. Lagu ini merupakan sebuah refleksi yang mendalam dari penulisnya, Kerry Livgreen.

Dan saya suka…

Dust In The Wind… judulnya.

Ada makna tersendiri jika kita mau mencernanya lebih mendalam.

***

Masih terkait dengan pidato fenomenal Steve Jobs yang saya tulis kemarin, menurut saya ada irisan makna dengan lirik lagu ini.

Dengan mengingat kematian, maka rasa cinta kita terhadap dunia dengan segala kepemilikannya seperti tidak ada apa-apanya.

Kita seperti setetes air di lautan luas yang tak bertepi.

Semuanya akan hilang sebagaimana butiran debu yang hilang karena tertiup oleh angin.

All they are is dust in the wind…

 

Yach, semuanya akan lenyap oleh kekuasaan yang maha Kuasa.

Lalu…

Akankah kita akan jumawa dengan kekuasaan kita?

Tidakkah kita ingat kekuasaan Fir’aun yang lenyap oleh seorang Musa yang pernah menjadi anak asuhnya.

Akankah kita jumawa dengan harta kita?

Tidakkah kita ingat ketika Allah menenggelamkan Qorun beserta hartanya dikarenakan kesombongannya.

Akankah kita jumawa dengan kepandaian kita?

Tidakkah kita ingat ketika Allah telah menghancurkan peradaban yang pernah ada di muka bumi ini dengan mudahnya?

Sekali lagi, semua itu (kekuasaan, kekayaan dan kepandaian) adalah fana. Semuanya akan musnah sebagaimana debu yang dengan ringannya diterbangkan oleh angin.

All they are is dust in the wind…

Marilah kita mengambil hikmah dari kisah-kisah tersebut.

***

Akhirnya, semoga kita senantiasa menjadi hamba yang bersyukur. Boleh saja kita memiliki impian dan harapan setinggi langit. Namun, apabila saat ini belum semuanya tercapai maka yang bisa kita lakukan adalah dengan mensyukuri nikmat yang ada. Sekecil apapun itu. Insyaallah itu adalah yang terbaik bagi kita.

Selamat malam….

(Edisi stuck nulis lagi dikarenakan tema yang berat, debu… Ha ha ha.. jadi seadanya.)

– Kendal, 10 Pebruari 2018 

#30dayswritingchallenge #30DWC #30DWCjilid11 #squad8 #day20

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: