TANAMLAH

Tahukah anda bahwa Indonesia dikenal sebagai “megadiversity country” dikarenakan memiliki hutan terluas dengan keanekaragaman hayatinya terkaya di dunia?

Namun…

Tahukah anda bahwa setiap tahunnya, luas hutan di Indonesia kehilangan arealnya sebanyak 684.000 hektar akibat pembalakan liar, kebakaran hutan, perambahan hutan dan alih fungsi hutan?

Tahukah anda bahwa Indonesia memiliki peringkat kedua tertinggi kehilangan hutannya setelah Brasil?

***

Ya… ketamakan dan keserakahan manusia mengakibatkan kerusakan alam khsususnya di negeri ini. Dan seringkali orang-orang yang segelintir itu bebas lepas ketika dimintai pertanggungjawabannya. Bahkan pernahkan anda mendengar bahwa sekitar tiga tahun yang lalu lalu gugatan perdata Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan ke PT BMH senilai Rp 7,8 trilyun ditolak oleh majelis hakim pengadilan? Lebih nahas lagi yang terkena pindana kurungan adalah para petani-petani kecil yang membuka lahan hanya untuk keperluan hidup keluarga mereka. Mereka hanya menggunakan tangan kosong. Jauh berbeda dengan perusahaan-perusahan yang menggunakan mesin-mesin buldozernya hingga menggundulkan hutan sampai dengan hitungan ribuan hektar.

Lalu, apa yang bisa kita lakukan? Mengutuknya? Memprotesnya? Bahkan negara saja kalah?

Saya pikir, bagi masyarakat biasa seperti kita, itu bukan domain kita untuk mengurusinya. Semoga pejabat-pejabat yang masih punya hati nurani dapat menyelesaikannya. Kita hanya bisa berdoa untuk kebaikan negeri ini. Namun juga perlu melakukan langkah nyata. Meskipun sedikit ataupun kecil, semoga itu bisa memberikan kontribusi. Turut memberikan batu bata solusi untuk penyelesaian permasalahan negeri ini.

Kemudian, langkah apa yang bisa dilaksanakan?

Ada beberapa teladan yang bisa kita contoh dan semoga bisa menyemangati kita.

YACOUBA SAWADOGO

Pernah mendengar namanya?

Beliau telah menghabiskan waktu kurang lebih selama 30 tahun menghijaukan gurun gersang di Afika Barat. Beliau terkenal dengan julukan “The man who stopped the dessert”.

Semuanya bermula dari erosi tanah yang parah dan pengeringan di wilayah utara Burkina Faso akibat adanya over pertanian dan over populasi. Seorang diri, di tahun 1980 mencoba melakukan sendiri upaya perbaikannya. Beliau menghidupkan kembali tekhnik pertanian Afrika kuno yang disebut dengan “Zai”. Tekhnik itulah yang akhirnya terbukti membuatnya berhasil menghijaukan kembali tanah yang bertahun-tahun gersang itu.

Sama halnya dengan Mbah Samijan, banyak yang mengejek dan mencibir beliau. Banyak yang menertawakannya waktu itu. Namun dengan dedikasi yang tinggi, keyakinan dan keikhlasan, akhirnya beliau bisa memberikan jawaban atas nyinyiran orang-orang disekitarnya.

Selain sikapnya yang teguh, yang bisa menjadikan insiprasi bagi kita adalah jiwa berbaginya. Yacouba tidak mau menyimpan metodenya seorang diri. Bagi dia, “jika Anda tinggal di sudut sempit diri Anda sendiri, seluruh pengetahuanmu tidak akan berguna sama sekali”.

Akhirnya, pada tahun 2010 kisahnya dituangkan oleh Mark Dodd ke dalam sebuah film dokumenter yang berjudul “The Man Who Stopped Desert”

 

SHUBHENDU SHARMA

Lebih modern lagi dibandingkan Yacouba. Shubhendu Sharma namanya. Di forum TEDx tahun 2014 silam dia memaparkan karya inovatifnya.

Dia bukan seorang ahli pertanian, biologi ataupun kehutanan. Beliau adalah seorang insinyur industri yang pernah bekerja di Toyota. AHA moment yang diperolehnya waktu itu adalah ketika bertemu dengan Dr. Akira Miyawaki yang datang ke pabriknya untuk membuat hutan mini. Dia begitu terkesan dan akhirnya memutuskan untuk mempelajari metode yang disampaikan oleh Dr. Akira.

Dia awalnya membuat hutan mini di belakang rumahnya. Dari percobaan yang dilakukan berdasarkan metode yang dipelajarinya, ternyata hutan yang dibuatnya jika dibandingkan dengan penanaman konvensional akan tumbuh 10 kali lebih cepat, 30 kali lebih tebal dan 100 kali lebih bervariasi. Bahkan baru sekitar dua tahun umur hutan mininya, dia mengamati bahwa air tanahnya tidak mengering di musim panas. Jumlah spesies burung yang ditemukannya di area tersebut menjadi dua kali lipat, kualitas udara membaik dan bisa mulai memanen buah musiman yang ada di hutan mini tersebut. Kemudian dia terus beinovasi dan silahkan simak videonya disini. Hehehe.

 

***

Terakhir, sebagai sebuah pengalaman kecil…

Rumah saya berada bisa dikatakan masih di daerah desa meskipun sudah banyak perumahan dan pabrik disekitarnya. Kebetulan di depan rumah ada pohon beringin yang saya tanam secara tidak sengaja.

Ceritanya, sewaktu masih SMA, saya memiliki dua pot tanaman beringin yang saya buat bonsai. Alhamdulillah meskipun tidak jelek-jelek amat ternyata telah menarik perhatian orang yang melihatnya. Hingga suatu hari terdengar suara pot yang pecah dari dalam rumah. Sontak saja saya segera keluar dan ternyata bonsai beringin saya diambil orang meskipun hanya satu. Menyesal juga rasanya waktu itu. Namun karena sudah hilang, ya mau gimana lagi.

Akhirnya bonsai yang tinggal satu tersebut tidak jadi saya pertahankan untuk menjadi bonsai, namun saya tanam di depan rumah saya, tepat di pinggir jalan.

Alhamdulillah kini pohon beringin tersebut sudah sangat rimbun. Dan yang membuat tentram di hati, di setiap harinya kicau burung menghiasai suasana pagi saya. Ternyata pohon beringin tersebut dijadikan sarang oleh sekawanan burung “emprit” yang begitu ramai.

***

Saya memiliki cita-cita besar bahwa saya bisa memiliki hutan mini di setiap kecamatan di kabupaten saya. Meskipun ide ini gila dan saya dianggap sebagai orang gila, itu tidak masalah. Saat ini sementara saya baru bisa membuat hutan monokultur di kapling kecil saya sebagaimana yang sudah pernah di tulisan saya yang berjudul “Tree Lines dan Lahan Kosong

Semoga kedepan cita-cita itu terwujud dengan memadukan konsep Yacouba Sawadogo dan Shubhendu Sharma. Aamiin.  Mohon doanya ya… 😊

Oiya, terakhir… yang insyaallah akan terus meneguhkan cita-cita saya tersebut adalah sebuah hadis Riwayat Ahmad dan dihasankan oleh Al Hafidz As Suyuthi, “ Barang siapa menanam tanaman dan tidak memakan darinya manusia juga tidak pula makhluk dari ciptaan Allah, kecuali baginya (bernilai) sedekah”.

Maksud dari hadis tersebut adalah bahwa siapa saja yang menanam tanaman, meski tidak ada yang mengkonsumsi hasilnya, maka itu bernilai sedekah baginya meski pelakunya tidak menyengajakan akan hal itu dan tidak pula mengetahuinya.

– Kendal, 28 Januari 2018

#30dayswritingchallenge #30DWC #30DWCjilid11 #squad8 #day07

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: