Sampah

Pernah melihat sebuah kisah video motivasi Thailand berjudul  Super Hero “I Want to Be?”

***

Di sebuah ruang kelas nampak semua murid tengah serius mengerjakan tugas dari ibu guru yang nampak mengawasi dengan seksama. Dari papan tulis yang bertuliskan, SUPERHERO, nampaknya murid diberikan tugas untuk menuliskan dan menggambarkan siapakah super heronya masing-masing. Setelah tugas selesai, sang guru segera mengoreksi pekerjaan murid-muridnya. Ada yang berkeinginan menjadi Magnet Man, Super Feezer, Thunder Man, Sound Wave dan yang lainnya. Namun ada satu super hero yang dipilih seorang anak yang berbeda dengan pada umumnya anak seusianya. Dia berkeinginan menjadi seorang “Garbage Man”. Dia menggambarkan seorang dengan beragam peralatan kebersihannya. Berdasarkan pengalaman ibunya, seorang tukang sapu yang pernah ditabrak mobil ketika melaksanakan tugasnya, dia berkeinginan menjadi seorang yang bisa melindungi ibunya dari bahaya dan membawa pulang ibunya ke rumah dalam keadaan selamat. Dan itu yang membuat haru ibu gurunya dan memberikan nilai 10.

Ya, kisah yang mengharukan dan memotivasi terutama bagi saya.

Si anak tersebut bernama Pornchai Sukyod.  Sang ibu telah mendidiknya dengan baik meski hanya sebagai tukang sapu. Itu nampak dari spontanitas dia manakala melihat sampah yang terserak di jalan, segera diambilnya dan segera memasukkannya ke tempat sampah.

***

Sekitar 15 tahun yang lalu, saat saya baru saja menikah, saya mencari kontrakan rumah di sebuah desa kecil di belakang kampus tempat saya bekerja. Daerah Malang tepatnya. Dikarenakan budget kita waktu itu terbatas, maka kami berusaha mencari kontrakan yang sesuai dengan budget tersebut. Alhamdulillah, akhirnya kami mendapatkannya meskipun harus berbagi rumah dengan sang pemilik. Rumah mungil itu di sekat menjadi dua. Dan saya bisa menggunakan bagian belakang rumahnya yang sudah dibuatkan pintu dan ruang tamu yang mungil. Dengan berbagi rumah tersebut, membuat saya paham aktifitas sang pemilik rumah.

Pak Wajib nama beliau dan terakhir saya silaturahmi ke sana beliaunya sudah meninggal. Beliau juga seorang tukang sapu di pemerintah kota Malang,seperti ibu dari Porncai Sukyod.

Dari beliau, saya belajar tentang arti sebuah dedikasi, baik terhadap tempatnya bekerja maupun untuk istri dan anak-anaknya. Setiap jam 2 dini hari beliau sudah bangun. Setelah menunaikan ibadah malamnya, beliau kemudian bersiap untuk berangkat bekerja. Hanya bermodal sepeda kayuh, beliau tanpa mengeluh dan menjalaninya dengan senang hati menuju lokasi beliau menyapu, belasan kilo meter jarak dari rumahnya. Selepas itu, siangnya beliau juga membantu istrinya memasak dan masih mengerjakan pekerjaan lainnya untuk dapat menghidupi keluarganya. Begitu setiap hari aktifitas yang dapat saya amati.

***

Dua kisah petugas kebersihan (tukang sapu) diatas setidaknya dapat memberikan gambaran kepada kita betapa mulianya peran mereka, meskipun seringkali tidak terlihat. Terabaikan.

Mengapa saya bisa mengatakan demikian?

Peristiwa yang dialami oleh ibu Pornchai Sukyod yang terciderai akibat ketidaksopanan pengendara juga terjadi di beberapa tempat termasuk di negeri kita. Para pengendara seakan tidak peduli dengan keselamatan mereka. Yang penting si pengendara segera sampai tujuan. Bahkan terkadang ada yang dengan tidak sopannya membunyikan klaksonnya dengan keras, hanya agar petugas sapu jalan tersebut minggir karena merasa perjalanan mereka terganggu.

Ada juga banyak kejadian yang saya temui (dan tekadang saya meneriakinya, hehehe) orang-orang yang membuang sampah sembarangan. Apalagi dari balik kaca mobil mereka. Ternyata simbol kekayaan (mobil,red) tidak berbanding lurus dengan akhlak mereka. Menyedihkan. Toh sudah ada tukang sapu? Itulah alibi mereka.

Mereka seakan tidak peduli dengan setiap keringat dari peluh yang harus menetes setiap saat di tubuh petugas sapu jalan hanya demi menjalankan amanahnya. Sebuah hasil kerja yang membuat sebagian besar orang nyaman dengan kebersihan yang ditimbulkannya. Hasil yang membuat pejabat-pejabat berbangga manakala daerahnya dianugerahi penghargaan adipura.

Jangan bilang mereka sudah di gaji. Jangan bilang itu sudah pekerjaan mereka.

Setidaknya, kita bisa membantu mereka dari hal yang kecil dan dimulai dari diri sendiri, yaitu  dengan tidak membuang sampah sembarangan alias membuang sampah pada tempatnya.

Ada kisah menarik,

Di sebuah forum TEDx , seseorang memaparkan bahwa setiap menit, setiap jam dan setiap hari, jutaan sampah telah mengotori lautan yang mengakibatkan banyak burung dan hewan akhirnya mati karena telah memakan sampah-sampah plastik tersebut. Itu akibat dari perilaku kita yang membuang sampah sembarangan. Keresahan itu yang membuat dia berpikir keras dan segera melakukan aksi nyata bagaimana mengatasinya . Hingga dia menjalankan proyek “Social Plastic”nya melalui wadah PLASTIC BANK. Tidak hanya mengatasi sampah plastic di lautan, dia juga membuat jejaring untuk mengolah sampah teresbut menjadi biji plastik sekaligus memebrikan penghasilan bagi relawan dan orang yang bersedia mengumpulkannya. David Katz nama beliau. Satu poin yang bisa saya tangkap dan menyemangati saya adalah “ We can all be a part of the Solution and not the Pollution”

***

Dari beberapa gambaran kisah di atas, dapat kita ketahui bahwa permasalahan sampah khususnya plastik menjadi permasalahan pelik bagi kita saat ini dan di masa yang akan datang karena sekarang setiap barang yang terkait dengan kehidupan kita tidak terlepas dari plastik.Dan saya yakin permasalahan itu dapat diselesaikan jika kita mau Bersama-sama memberikan kontribusi, memberikan solusi.

Dan seperti nasehat dari David katz, mari kita menjadi bagian orang-orang yang bisa menjadi solusi, bukan orang yang menimbulkan polusi.

Mulai dari diri sendiri, saat ini juga dan mulai dari hal yang kecil.

“Buang sampah pada tempatnya”

– Kendal, 27 Januari 2018

#30dayswritingchallenge #30DWC #30DWCjilid11 #squad8 #day06

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: