Revolusi Sebatang Jerami

Malam itu, suasana gedung Wanita Semarang tampak ramai. Terlihat pengunjung dari berbagai rentang usia asyik melihat dan membaca buku-buku yang terpajang. Begitupun dengan saya. Ajang Semarang Book Fair memang  tengah di helat waktu itu.
Setelah menyusuri beberapa stand, tiba-tiba aku terhenti di sebuah stand kecil dengan buku-buku yang rata-rata sudah nampak lusuh. Yang menunggupun bukan anak-anak muda sebagaimana stand yang lainnya, namun seorang bapak yang sudah beranjak tua. Nampak dari uban dan kerutan di wajahnya. Stand dari Yayasan Obor Tani (Yabortan).

Sebuah buku menarik perhatianku. Relatif tipis karena sekitar 161 halaman. Sampulnya sudah kusam. Tapi judulnya menarik hati saya. Revolusi Sebatang Jerami yang ditulis oleh Masanobu Fukuoka. Dan alhamdulillah dapat kubeli, meskipun tinggal satu eksemplar.

***

Ya, seorang tua dari negara yang terkenal dengan kepesatan teknologi dan kemajuannya. Namun melakukan tindakan gila. Memilih sesuatu berbeda dengan apa yang telah dilakukan orang pada umumnya. Tapi, prinsip itu dipegangnya dengan kokoh hingga meninggalnya di tahun 2008 silam. Beliau lebih memilih meninggalkan pekerjaannya untuk menekuni kegiatan barunya. Bertani “tanpa bekerja”.

Dia mengerjakan lahan dari orang tuanya yang saat itu sudah dalam kondisi rusak. Menurutnya kerusakan lahan tersebut akibat penggunaan pupuk kimia dan pestisida yang terus menerus. Diapun segera membersamai dan belajar dari alam untuk menegaskan idealismenya.

Kegagalan di langkah awalnya menjadi sebuah keniscayaan. Oleh karena itu, sang ayah menasihatinya bahwa “kamu tidak bisa merombak teknik pertanian dengan segera.”

Akhirnya dia belajar dan terus belajar tiada henti hingga karyanya menjadi fenomenal. Diapun diganjar dengan dua penghargaan  sekaligus di tahun 1988 yaitu Magsasay dari Philipina dan Dhesikottam dari India. Usahanya lebih dari 40 tahun tidaklah sia-sia.

Kini pilihan model bertaninya banyak diikuti oleh berbagai pihak dari beberapa negara dengan istilah kerennya adalah pertanian organik.

Penerus Fukuoka San di Indonesia

Terinspirasi dari buku Revolusi Sebatang Jerami dari Masanobu Fukuoka, Ika Suryanawati juga berusaha “menerobos kebuntuan” dalam mewarnai pertanian di Indonesia. Lulusan IPB tahun 1991 ini setelah berkecimpung di dunia garmen dan pertambangan batu bara, akhirnya memutuskan untuk pulang kampung ke Gasol, Cugenang, Cianjur untuk mengejar mimpi membuat pertanian organik. Dari lahan yang dibelinya seluas 2.500 m2 kini telah mencapai 1 hektar dengan 35 orang petani. Hasil yang didapatkannyapun luar biasa, 9 ton per hektar sekali panen.

Kisah lain juga di tunjukkan oleh seorang perempuan hebat bernama Hasna dari Desa Mataue, Kecamatan Kulawe, Sulawesi Tengah. Setelah belajar pertanian organik dengan magang sekitar empat bulan, dia berusaha mengembangkan pertanian organik di desanya. Meskipun sempat di tentang oleh orang tuanya, setelah sekian lama dia bisa membuktikan akan usahanya. Dari lahan sekitar 170 meter persegi dia mampu menghasilkan 40 kaleng biskuit Khong Guan. Mengalahkan lahan yang diolah ayahnya yang hanya mampu menghasilkan 30 kaleng biskuit dari lahan 200 meter persegi. (Di desanya, kaleng biskuit biasa digunakan sebagai tolak ukur panen dan apabila dikonversi ke kilogram setara dengan 12 kilogram gabah)

Perjuangan menerapkan pertanian organik juga dilakukan oleh sepasang suami istri, Ibang Lukman Nurdin dan Nisya Saadah Wargadipura, yang mendirikan Pesantren Ath Thaariq di Garut Jawa Barat semenjak 2008 silam. Pesantren yang memiliki lahan seluas 8.500 meter persegi tersebut menanamkan ke anak didiknya konsep agro ekologi demi cita-cita memulihkan hubungan manusia dengan alam.

***

Selain yang saya ceritakan, saya yakin banyak orang-orang yang tidak tercover media, bekerja dalam senyap yang terus berkarya untuk membangun pertanian negeri ini. Bukan sekedar retorika belaka.

Langkah-langkah senyap mereka mengingatkan saya dengan sebuah kampung yang meninggalkan kesan mendalam ketika mengunjunginya beberapa waktu silam, Kampung Naga yang ada di Tasikmalaya.

Di kampung ini tidak ada ceritanya kekurangan pangan apalagi harus impor. Mereka memiliki lumbung bersama yang bernama leiut dan lumbung kecil di masing-masing rumah. Ada kemadirian disana.

Benar apa yang diutarakan oleh Wage Rudolf Supratman, bahwa negeri ini memerlukan orang gila untuk merdeka (dan mengisinya, pen).

Kapitalisme terhadap pertanian insya Allah akan dapat dikalahkan oleh generasi-generasi senyap yang terus bekerja dan bersatu untuk membangun dunia pertanian di negeri ini. Semoga tidak ada lagi cerita impor bahan pangan hanya untuk memuaskan kepentingan segelintir orang yang mengatasnamakan petani dan kedaulatan pangan.

Tentu perjuangan seperti mereka tidak mudah. Perlu kesabaran, kegigihan dan waktu untuk mencapai hasil yang diinginkan. Semua perlu proses. Hasil tidak akan pernah mengkhianati proses.

Siap dan maukah kamu ???

– Kendal, 26 Januari 2018

#30dayswritingchallenge #30DWC #30DWCjilid11 #squad8 #day05

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: