Karya Besar dari Orang Sederhana yang Berfikir Sederhana

E D A N (e / de / a / en)… gila atau tidak waras. Itulah yang meluncur dari lisan orang-orang ketika beliau menukarkan dua bibit cengkeh dengan satu bibit beringin yang tidak ada harganya kepada tetangga desa yang bersedia. Pun ketika beliau menanaminya satu demi satu di bukit yang gundul.

Itulah tanggapan kala itu kepada sosok satu ini, seorang tua yang telah tertempa oleh jaman, ketika memulai petualangannya sekitar 20 tahun yang lalu, tepatnya sekitar tahun 1997. Beliau merasakan keresahan yang teramat dalam melihat kondisi desa yang ditinggalinya.

Kebakaran hebat yang melanda perbukitan di sekitar desanya telah memusnahkan semua vegetasi yang ada saat itu.Hanya tersisa sekitar segerombol tanaman yang luasannya hanya sekitar 100 meter persegi. Akibatnya ketika musim penghujan tiba, terjadi banjir dan longsoran tanah yang membawa aliran batu dan kayu-kayu dari bukit tersebut. Dan ketika musim kemarau, seluruh warga desa kekurangan air yang menyebabkan kekurangan pangan akibat tanaman yang  tidak dapat tumbuh dengan baik. Pun  dengan penyakit yang mewabah berakibat kematian sebagian warganya.

***

Mbah Samijan namanya. Seorang yang sederhana dan berfikir sederhana.

Berkat kegigihan beliau selama hampir 20 tahun terakhir, akhirnya penduduk desa bisa menikmati hasilnya. Kini air mengalir dengan jernihnya dan perbukitanyang dahulu gundul sudah menghijau dipenuhi pepohonan dan rerumputan.

Atas jerih payahnya tersebut beliau dianugerahi kalpataru di tahun 2016 yang lalu sebagai penyelamat lingkungan.

***

Dari sosok beliau setidaknya ada beberapa hal yang bisa memberikan inspirasi bagi saya dan semoga juga bisa menginspirasi yang lain.

Greget

Ya, greget atau keresahan akibat kondisi lingkungan  yang rusak di depan matanya. Beliau mengajarkan kepada kita untuk peka terhadap permasalahan-permasalahan yang ada disekitar kita . Menumbuhkan empati di jiwa.

Eksekusi

Beliau tidak hanya mengumpat, menyesali dan menyalahkan keadaan. Satu hal yang pasti, beliau segera memulai dan mengeksekusi. Itu pelajaran penting bagi kita bahwa tidak perlu kita mengharapkan keajaiban datang kepada kita atau menuntut orang lain untuk memenuhi keinginan kita. Yang terpenting adalah bagaimana kita menjadi orang yang pertama kali melakukan aksi, memulai dan mengeksekusi solusi terhadap permasalahan yang ada di sekitar kita. Hadirkanlah solusi sebagaimana mbah Samijan contohkan.

Sendiri

Untuk melakukan hal baik apalagi “gila” maka akan sedikit pengikutnya. Bahkan kita hanya seorang diri sebagaimana ketika Mbah Samijan memulainya. Itu adalah sebuah keniscayaan. Maka kuatkanlah tekad dan perbaiki terus niat awal kita agar semangat kebaikan itu terus menggelora.

Pengorbanan

Melahirkan solusi terhadap permasalahan yang ada di sekitar kita tentu memerlukan pengorbanan baik itu tenaga maupun materi. Pun seperti yang telah dilakukan oleh Mbah Samijan. Beliau rela menjual kambing-kambingnya  dan barang-barang  berharga lainnya untuk membeli bibit.

Kerja Keras

Menyemai, menanam dan merawat  tanaman memerlukan kerja keras. Apalagi medan perbukitan yang harus ditempuh untuk melakukannya. Tidak ada suatu pekerjaan yang dapat berhasil tanpa adanya kerja keras.

Proses

Melakukan penghijauan tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Perlu waktu untuk dapat melihat hasilnya. Beliau memerlukan waktu hampir 20 tahun untuk dapat membuktikan kepada masyarakat dan orang-orang yang telah mencemoohnya dengan karya besarnya. Beliau mengajarkan tentang arti pentingnya sebuah proses, bahwa sebuah karya besar tidak dapat diperoleh dengan instan. Bukankah mie instan saja dalam penyajiannya juga memerlukan beberapa proses yang harus dilalui?

Sabar dan Ikhlas

Dalam melakukan proses penghijauan, banyak cemoohan dan rintangan yang dihadapi. Bahkan tanaman yang sudah beliau rawat dengan baik ada yang di rusak oleh orang yang tidak suka. Karena, dalam menempuh jalan kebaikan, tidak semua orang akan mendukungnya. Kekuatan sabar dan ikhlas mampu melapangkan jiwa beliau hingga dapat menjalaninya selama 20 tahun terakhir dengan tantangan dan cobaan yang menerpanya.

– Kendal, 22 Januari 2018

#30dayswritingchallenge #30DWC #30DWCjilid11 #squad8 #day01

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: