Penjalanan itu baru Saja Dimulai

Alhamdulillah, kemarin saya sudah dapat menyelesaikan challenge menulis 30 hari tanpa henti melalui ajang #30DWC yang digagas oleh Inspirator Academy. Ada kepuasan tersendiri ketika dapat menyelesaikan sesuatu hal yang menurut saya sangat berat. Mengapa? Karena tidak semua orang bisa melaluinya. Pun demikian juga dengan saya. Apalagi ini adalah hal yang benar-benar baru bagi saya. Terlepas dengan masih buruknya kualitas tulisan saya. It’s amazing for me….

Melaluinya tentu tidaklah mudah. Beruntung saya dapat berkumpul dengan insan-insan hebat dalam program ini, #30DWCJilid10. Terkonfirmasi sudah sebuah hadis yang selama ini barangkali sudah sering terlintas di telinga saya.

“Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR Bukhari 5534 dan Muslim 2628)

Saya baru benar-benar membuktikan arti penerapan dari hadis tersebut. Saya meyakini, keberhasilan menyelesaikan tantangan tersebut tidak lepas dari komunitas tempat saya berkumpul tersebut. Ada aura di sana. Ada semangat di sana. Ada kekeluargaan juga di sana. Itu yang menyemangati dan memompa adrenalin saya untuk senantiasa menuangkan kata. Saya benar-benar bisa membuktikan apa arti pentingnya berjamaah. Berkumpul dengan orang-orang yang memiliki passion yang sama. Memiliki visi dan misi yang serupa. Itu dapat saya rasakan meskipun kami tidak pernah berjumpa secara fisik.

Yup, tidak bertemu secara fisik saja dapat menumbuhkan, apalagi jika kita dapat berkumpul dengan komunitas-komunitas yang dapat meningkatkan kapasitas diri kita dengan bertemu dan berkumpul secara langsung.

Oleh karena itu, bagi kita yang sudah memiliki komunitas yang tentunya komunitas tersebut dalam rangka kebaikan, maka tetapilah. Perkokoh kehadiran dan keterlibatan kita. Saya percaya, komunitas kebaikan itu tentu tidak hanya memikirkan diri mereka sendiri, namun beupaya untuk memberikan kontribusi bagi lingkungan di sekitarnya. Perbedaan pendapat, friksi dan hal lain yang melemahkan tentu itu adalah sebuah keniscayaan, sebab yang berkumpul adalah manusia yang setiap mereka memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing.

“Sesungguhnya setan itu serigala bagi manusia, seperti serigala bagi kambing, ia akan menerkam kambing yang keluar dan menyendiri dari kawanannya. Karena itu, jauhilah perpecahan, dan hendaklah kamu bersama jama’ah dan umat umumnya” (HR. Ahmad & Tirmidzi)

Peran Mentor

Hal satu ini menurut saya mutlak diperlukan untuk dapat meningkatkan kapasitas diri. Kita tetap memerlukan peran orang lain, khususnya mentor ataupun pelatih yang tentunya sudah memiliki pengalaman yang lebih daripada kita. Peran mereka nyata adanya.

Saya juga sudah pernah menyinggung peran mentor dalam tulisan saya yang berjudul “Menolak Menyerah“.

***

Terakhir, sesungguhnya keberhasilan menyelesaikan tantangan #30DWC bukanlah apa-apa. Sesungguhnya, perjalanan itu baru saja di mulai. Maka teruslah menulis dan berkarya. Semoga kita senantiasa diberikan konsistensi dalam melakukan kebaikan, menebarkan kebaikan sekecil apapun bentuk kontribusinya. Setiap kita punya peran masing-masing. Anda yang lebih tahu.

#selfreminder

– Kendal, 26012017

RealBattleforWritingJourney #01

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: