Dan Pohon pun Berbicara

Sebagaimana yang sudah diketahui, kertas merupakan elemen utama dari sebuah buku. Kertas yang beredar saat ini umumnya terbuat dari pulp. Pulp sendiri merupakan bahan dasar pembuatan kertas yang salah satunya dihasilkan dari material kayu. (Proses pembuatan kertas disampaikan secara apik oleh sahabat saya dari Squad 7, Mbak Roro melalui tulisannya yang berjudul Sepenggal Kisah Reuse).

Saat ini saya tidak akan mengulas mengenai buku ataupun kertasnya, namun mengenai pohonnya.

Sebagaimana sudah pernah saya singgung di tulisan saya beberapa waktu lalu yang berjudul “Tree Lines dan Lahan Kosong“, bersyukurlah kita yang tinggal di Indonesia. Posisi negara kita yang di negara tropis memberikan anugerah tersendiri. Wujudkan syukur tersebut dengan cara merawat pohon dengan sebaik-baiknya.

***

Suatu hari di bulan Juni, 2016 di forum TED Summit…  Suzanne Simard, seorang pakar ekologi yang berasal dari University of British Columbia, Canada memaparkan tentang bagaimana pohon ternyata dapat berbicara satu dengan yang lainnya. “A forest is much more than what you see,” katanya. Hal tersebut diketahuinya setelah melakukan riset selama 30 tahun untuk mempelajari hutan dan meneliti bahasa pohon. Itu semua diawali dari “AHA Moment” sewaktu dia kecil, ketika Jig (anjing kesayangannya) tergelincir dan jatuh di lubang kakus di tepi danau dekat tempat tinggalnya. Ketika masuk ke dalam untuk mengambil Jig bersama kakeknya, dia terpesona dengan susunan akar beserta komponen lainnya. Itulah yang memotivasi dia mengambil studi kehutanan hingga menjadi seorang ahli ekologi seperti saat ini.

Apa yang diteliti oleh Simard dikuatkan oleh partnernya, seorang pakar kehutanan Jerman bernama Peter Wohlleben. Melalui buku yang ditulisnya, berjudul “The Hidden Life of Trees“, dia menyampaikan bahwa pepohonan juga memiliki kehidupan sosial yang kompleks. Dia percaya bahwa pohon juga seperti manusia, memiliki kehidupan keluarga dan bertetangga selain berhubungan dengan spesies yang lainnya.

Sama halnya dengan manusia, pohon itu punya teman…

Di antara mereka dalam proses tumbuhnya tidak saling berkompetisi untuk mendapatkan air, cahaya dan ruang. Ternyata mereka saling menguatkan satu dengan lainnya. Apabila sebuah pohon terserang hama, dia akan segera memperingatkan kepada teman-temannya. Mereka saling menjaga agar setiap anggota masyarakatnya tetap hidup.

Sama halnya dengan manusia, pohon itu punya ingatan, punya bahasa dan punya perasaan…

Oleh karena itu, marilah kita bijak dalam berinteraksi dengan pohon yang ada di sekitar kita. Bagi yang selama ini terbiasa memaku pohon hanya untuk memasang pengumuman, pamflet atau lainnya, sebaiknya mulai sekarang dihindari. Masih banyak cara dan media lain untuk menyampaikan pesan. Cobalah berempati dengan mereka, sebab mereka juga punya rasa dan bisa berbicara.

Bahkan, merekapun senantiasa bertasbih bersama segenap komponen alam lainnya. Hal ini sesuai dengan apa yang rilis dalam Journal of Plant Molecular Biologist,  menyatakan bahwa sekelompok ilmuwan yang melakukan penelitian mendapatkan suara halus yang keluar dari sebagian tumbuhan yang tidak bisa di dengar oleh telinga biasa.

Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada didalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun – Al Isra :77

Maka, nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan?

– Kendal, 24122017

#30DWC-Jilid10_Squad7_Day29

#Chalenge : BUKU

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: