Menulis, Apa yang Kau Cari?

Ke Gontor Apa yang Kau Cari ? Itulah yang akan kita jumpai manakala memasuki kawasan Pondok Pesantren Gontor di Ponorogo. Seakan Menegaskan niat awal manakala memutuskan untuk menempuh pendidikan melalui jalur semi formal di sana.

Pun dengan aktifitas menulis, apa yang akan kita cari?

Saya meyakini banyak motivasi dari serial dari kita untuk menempuh aktifitas tersebut. Ada yang ingin mengasah kita sehingga nantinya tulisannya akan diterbitkan menjadi sebuah buku, ada yang ingin mengungkapkan isi heating Manalapan dia tidak trampil berbicara dan berbagai motif lainnya.

Yang jelas, ada benang merah yang bisa saya dapatkan dari berbagai motivasi tersebut yaitu untuk berbagi baik ide, pengalaman maupun solusi. Semoga niat berbagai tersebut senantiasa terpatri dalam jiwa-jiwa para perangkai kata.

Namun, dalam prosesnya banyak riak-riak yang akan dihadapi. Tapi itu sebuah keniscayaan. Di kritisi, buntu tidak ada ide, semangat yang melemah bahkan terkadang bisa menyinggung orang lain meski sebenarnya kita tidak ada niat sebelumnya. So, tetaplah berusaha menulis saja. Mengalirlah. Berusaha menulis dengan etika. Dan Jikapun itu tetap ada yang tidak sependapat, itu suat u yang wajar menurut saya. Tidak ada karya yang sempurna, tidak semua memiliki persepsi yang sama bahkan dua orang kembar sekalipun. Meski demikian, tanggapilah dengan santun. Minta maaflah. And take it easy. Jangan baperan.

***

Terakhir, sebagai penyemangat.

Ada sebuah penggalan dialog yang menarik saya di dalam film Genius tentang proses terbitnya buku Memoar Jenderal Grant. (Nasehat Max kepada Scot – penulis The Great Gatsby, yang sedang dirundung masalah akibat istrinya masuk RSJ, dia kehabisan uang untuk membiayainya dan terpaksa meminjam ke kantor Max)

– Memoar Jenderal Grant –

“Kau tahu bagaimana dia menulisnya?”

Dia menderita kanker tenggorokan dan ia ingin meninggalkan sesuatu untuk keluarganya.

Jadi dia mulai menulis otobiografinya.Dia bekerja setiap hari selama berjam-jam.

Dia sangat kesakitan, menderita,tapi dia terus menulis.

Dan pada akhirnya, dia menghasilkan buku yang sangat luar biasa. Sangat-sangat indah.

***

Menulislah…

Menulis dari hati dan insya Allah yang disampaikan dari hati, akan sampainya ke hati. Mari menulis lillah.

Menulis, apa yang kau cari?

#selfreminder

– Kendal, 21122017

#30DWC_Jilid10_Squad7_Day26

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: