Generasi Penerus (2)

Akhirnya si bayi dibawa ke ruang neonatus atau istilah lainnya adalah ruang perinatal, karena anak saya masuk kategori BBLR (Bayi Berat Lahir Rendah), kurang dari 2.5 kg. Box kecil dari kaca bening menjadi tempat sementara si bayi untuk mendapatkan perawatan intensif. Selang udarapun juga menghiasi hidungnya. Melihat tubuhnya yang mungil dan kulitnya yang begitu tipis, tidak tega rasanya. Tapi, saya yakin dia bisa bertahan.

Sebagaimana bayi pada umumnya, sebagai asupan makanannya adalah ASI (air susu ibu). Karena berada di ruang neonatus, seingat saya, diberi tambahan asupan susu khusus untuk BBLR, S26 Gold waktu itu.

Berdasarkan yang saya baca, kolustrum yang keluar pertama kali dari ASI menjadi hal yang sangat diperlukan oleh bayi untuk imunitas proses perkembangan berikutnya. Dan dikarenakan bayi masuk kategori BBLR, maka respon mengenyutnya masih belum terasah. Sempat baper juga waktu itu, sebagai orang tua baru mendengar ada perawat yang bilang, anaknya males. Gak mau segera minum ASI. Bukannya memberi support malah mendemotivasi.

Namun, karena saya meyakini arti pentingnya kolustrum, istri saya ajak untuk mengunjungi anak kami dan melatihnya untuk mengenyut setiap dua jam sekali sekaligus untuk membangun kedekatan. Kebetulan waktu itu ruang neonatus berada di lantai dua sedangkan istri saya di rawat di lantai dasar.

Alhamdulillah, perlahan anak saya mulai menunjukkan responnya dan mulai mengkonsumsi ASI. Begitu gembiranya kami.

Dikarenakan sudah baper (maklum keluarga muda, hahaha), mengetahui anak saya sudah ada perkembangan, saya putuskan untuk pulang paksa. 🙂 Nekad banget saya waktu itu.

Akhirnya, pasca dua hari perawatan di neonatus, istri beserta bayinya saya boyong ke rumah. Sebagai ganti kotak inkubator, saya membuatnya sendiri dengan memanfaatkan krat/keranjang plastik kotak yang biasanya untuk tempat buah atau perkakas. Kebetulan mertua usahanya di bidang persewaan dan barang itu ada. (Kami masih tinggal di PMI, :-)). Sebagai penghangatnya, saya beri lampu dop diatas kotak tersebut. Alhamdulillah bayi saya bertahan dan baik-baik saja.

Si kecil dan inkubator buatan di pondok atas

Namun, selang beberapa hari kemudian anak saya menunjukkan gejala kuning. Karena waktu itu smartphone belum seperti sekarang yang dengannya bisa bertanya pada mbah Google, kamipun mengikuti saran dari orang tua untuk menjemurnya. Setiap pagi saya jemur si kecil di bawah terik sinar matahari. Alhamdulillah, berangsur mulai hilang gejala kuningnya. Dan ketika kontrol ke RSIA, setelah di cek lab alhamdulillah normal semuanya.

Sampai kini anak saya sudah kelas 1 SMP alhamdulillah diberikan kesehatan oleh Allah.

Demikian, sekelumit kisah yang pernah saya lalui. Semoga bermanfaat.

– Kendal, 16122017

#30DWC_Jilid10_Squad7_Day21

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: