Kesetiaan

Kesetiaan menjadi salah satu barang langka terutama di era penuh keterbukaan seperti sekarang ini, di ranah apapun itu. Namun, ada beberapa kisah tentang kesetiaan yang barangkali dapat kita ambil pelajaran sekaligus teladannya. Saya melihat, setidaknya ada dua hal yang mempengaruhinya.

Faktor Lingkungan dan Leader

Ada satu poin penting yang saya peroleh dari owner Wardah ketika memberikan paparannya di ajang KSN 2017 Sentul, beberapa waktu yang lalu. Poin itu adalah tentang kesetiaan para karyawannya. Beliau menceritakan, sudah banyak karyawan yang ditawari oleh pihak lain untuk pindah pekerjaan dengan iming-iming yang jauh lebih tinggi serta berbagai fasilitas yang melekat didalamnya. Namun, mereka menolaknya. Bukan masalah comfort  zone menurut saya. Namun semuanya adalah tentang rasa. Rasa memiliki, rasa kebersamaan dan penuh kekeluargaan. Itulah mengapa mereka betah di “Paragon”, kantor pusatnya Wardah.

Ada cerita lain yang menggambarkan makna sebuah kesetiaan. Anda tahu film Star Wars? Sebuah film yang melegenda hingga hari ini semenjak diluncurkan sequel perdananya tahun 1977. Seri terakhir yang diproduksi  adalah sekuel VII yang saat ini tengah memasuki masa pre ticket sales di bioskop tanah air. Bahkan sekuel IX sudah dijadwalkan tayang perdana pada 24 Mei 2019. Siapakah aktor di balik kesuksesan tersebut? Tak lain adalah George Lucas. Sang kreator Star Wars beserta karakter-karakter didalamnya. Sama halnya dengan Wardah, di Skywalker Ranch (markas Lucas di pedesaan Marin County, California), Lucas menerapkan manajemen yang lugas. Hasil dari pengalaman kuliahnya dulu di sekolah film University of Shoutern California yang mengedepankan kebebasan, kreatifitas dan lingkungan yang terbuka. Antar anggota tim berkolaborasi, tidak hanya sebatas sebagai rekan kerja, namun lebih dari itu. Suasana kekeluargaan yang ditumbuhkan. Ada ikatan hati disana. Itulah yang melahirkan kesetiaan di antara crew Lucas meskipun di awal pembuatan film Star Wars penuh ujian dan cobaan yang tidak ringan.

Faktor Persona

Apabila kisah di depan adalah karena faktor lingkungan yang di bangun oleh leadernya. Ada contoh lain tentang kesetiaan yang muncul karena kharisma dari personalnya.

Kisah pertama tentang Fransesco Totti, pemain AS Roma di liga Italia yang telah membela klub semenjak 1992, memberikan penampilan sebanyak 619 kali dengan torehan 250 gol. Dari awal berkarir sampai dengan gantung sepatu Juli 2017 silam, dia tidak pernah sekalipun pindah klub. Di tengah liga yang ketat seperti liga sepakbola Eropa, tentu iming-iming materi menjadi salah satu faktor penggoda bagi pemain untuk pindah klub. Capaian prestasi klub yang biasa saja juga seringkali membuat pemain untuk pindah klub dengan harapan bisa meraih prestasi yang lebih bagus. Pun tensi tinggi ketika berinteraksi dengan pemain bintang lain dan pelatih yang seringkali berganti, tentu tidaklah mudah untuk beradaptasi, menyesuaikan diri sekaligus memahami berbagai karakter rekan serta pelatih. Namun, Totti mampu melewati itu. Maka, sangatlah layak apabila beberapa media memberikan gelar baginya seperti El Capitano, the Gladiator, King of Roma dan gelar lainnya.

Kisah yang lain dapat kita peroleh dari kancah sepakbola nasional, terutama gelaran Liga 1 yang berakhir beberapa waktu yang lalu. Jika Totti adalah seorang striker, maka sosok yang satu ini berposisi sebagai penjaga mistar gawang, seorang kiper. Namanya Choirul Huda. Dia harus mengakhiri karirnya di lapangan untuk selamanya, meninggal beberapa waktu kemudian akibat benturan keras dengan sesama rekannya dalam salah satu laga yang di lakoni oleh Persela Lamongan. Tim ini menjadi satu-satunya tim yang di bela Choirul Huda semenjak 1999 dengan 503 caps sampai meninggalnya 15 Oktober 2017 di usia 38 tahun. Sebuah kesetiaan yang luar biasa. Tidak ada satu pemain di Indonesia yang meniru jejaknya. Pantaslah dia dijuluki dengan gelar The Legend – the one man, one club and one love. Kesetiaan yang tidak mudah di tengah carut marutnya persepakbolaan Indonesia yang minim prestasi dan gaji pemain yang tidak seberapa.

Namun, bagi saya ada satu figur lagi yang mampu menginternalisasikan makna kesetiaan di dalam hidupnya. Beliau adalah Rasulullah, Muhammad SAW. Kesetiaan beliau kepada ummatnya. Beliau rela hidupnya dalam kesusahan hingga hidayah sampai kepada seluruh manusia. Hinaan, cacian bahkan sampai di usir dari Makkah harus beliau lalui. Bahkan ada sebuah kisah ketika sekelompok bani Israil tengah menggotong mayat untuk dikuburkan, beliau menangis. Dan ketika ditanya oleh para Sahabat mengapa beliau menangis padahal yang meninggal bukan Muslim? Beliau menjawab, “saya belum sempat mendakwahi dia sehingga dia meninggal dalam keadaan kufur”. Bahkan dalam doa-doanya setiap malam ketika tahajud, beliau tidak mendoakan dirinya supaya masuk surga, akan tetapi mendoakan umat-umatnya agar senantiasa diberikan hidayah. Ummati… ummati… ummati… Kesetiaan yang dilandasi dengan ketulusan yang mendalam.

– Kendal, 12122017

#30WDC_Jilid10_Squad7_Day17

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: