Tentang Sandal Jepit dan Melatih Rasa

Dalam dialog dengan salah satu teman saya mengenai sandal jepit, saya menjadi tahu bahwa dia dilarang keras oleh istrinya menggunakan sandal jepit manakala bepergian. Sampai-sampai sang istri harus membelikan dan menyiapkan sandal slop untuk teman saya tersebut. Biar gak malu-maluin katanya. Prestise. Gengsi. Wah, saya jadi kesindir nih. ๐Ÿ™‚

Kebetulan saya pencinta sandal jepit. Hampir di setiap kesempatan saya selalu menggunakannya kecuali event-event khusus yang bermaksud untuk menghargai orang yang mengundang dan ke kantor dengan memakai sepatu kets. (Yang penting hitam ย dan bertali, saya pikir itu tidak menyalahi aturan kantor). Selain dua momen tersebut, hampir dipastikan si sandal jepit setia menemani saya sebagai alas kaki kemanapun saya pergi.

Alhamdulillah, istri saya sudah bisa memahami style saya tersebut meskipun ternyata di awal-awal pernikahan sempat gerah dengan hal yang satu ini. Mungkin sudah bosen kali ya mengingatkan dan memendam rasa. Hampir 14 tahun lagi. Saking ndablegnya saya. Hahaha.

Jujur saja, saya orang yang tidak suka dengan hal yang serba formalitas meskipun keseharian saya ada di dunia birokrasi. Hehehe…

Saya mencintai sandal jepit bukan tanpa makna, namun untuk melatih rasa. Mengolah jiwa saya. ๐Ÿ™‚

Ada beberapa filosofi yang bisa saya dapatkan dengan menggunakan sandal jepit. Langsung bisa memaknai ketika bersinggungan dengannya secara langsung, bukan sekedar teori belaka.

Fleksibilitas

Sebagaimana diketahui bersama, hampir setiap strata sosial dapat dikatakan akrab dengan sandal jepit. Dari seorang pemulung yang sibuk berjuang di tumpukan sampah bahkan sampai dengan seorang presidenpun juga menggunakannya (jadi teringat viralnya sandal jepit birunya Pak Jokowi ketika berkunjung ke Kalimantan ๐Ÿ™‚ ). Bahkan saya baru tahu kalo ada sandal jepit yang digunakan artis-artis harganya bisa mencapai ratusan ribu rupiah sepasangnya. Padahal sandal jepit yang akrab di kaki saya harganya hanya di kisaran sepuluhribuan.

Selain dari sisi pengguna, si sandal jepit ini begitu fleksibel dalam penggunaannya. Dia bisa di pakai di kamar mandi, kebun, dalam rumah bahkan untuk pergi ke gramedia, mall dan bioskop (itu kalo saya, hehehe). Ya, dia memiliki daya fleksibilitas yang tinggi.

Belajar darinya, saya berharap bisa memiliki daya fleksibilitas yang tinggi, mudah beradaptasi dan bergaul dengan strata apapun namun tetap memiliki prinsip. Berbaur namun tidak lebur. Insyaallah banyak nilai yang bisa saya dapatkan dari setiap orang yang berinteraksi dengan saya.

Mengelola Hati

Seringkali ketika saya menggunakannya terutama di mall ataupun bioskop, mata sinis seakan menghakimi. Tatapan mereka mengatakan saya norak, kampungan, ndeso dan istilah sejenis. Namun, saya cuek saja. Toh saya tidak mengganggu privasi mereka. Nonton ya saya juga bayar pakai uang saya sendiri.

Hal ini mengajarkan saya untuk dapat ikut merasakan bagaimana rasanya di anggap rendah, disinisi dan kadang di buly oleh orang lain. Sehingga dengan merasakan itu, saya tidak mudah men-judge, menghina dan merendahkan orang lain hanya dari tampilan luarnya saja. Saya meyakini bahwa setiap orang pasti punya kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Tahu Diri

Tidak setiap tempat ramah bagi pencinta sandal jepit seperti saya. Pernah saya menjumpai di sebuah pameran bahwa pengunjung yang berkaos oblong dan bersandal jepit dilarang masuk. Tentu saya juga harus tahu diri. Ya, jangan memaksa masuklah. Toh, belum tentu hal yang ada di pameran tersebut pasti bermanfaat bagi saya. Atau bisa jadi kita bisa memperoleh manfaatnya di lain tempat. Siapa tahu. ๐Ÿ™‚

Hikmahnya, kalau saya tidak menguasai sesuatu hal/bidang, ya tahu dirilah. Jangan membranding diri dengan apa-apa yang tidak saya kuasai.

Melatih Keikhlasan

Saya mengalami kehilangan sandal jepit tidak hanya sekali. Seringkali apabila pergi ke tempat-tempat umum, saya kehilangan sandal jepit. Saya menyadari bahwa itu bukan sepenuhnya kesalahan dari orang yang mengambil. Bisa jadi dia terburu-buru sehingga salah ambil karena barang yang diambil serupa. Bisa jadi memang sepatu atau sandal miliknya hilang juga. Karena mendesak dan dirasa sandal saya sudah kelihatan kusam, sepertinya sudah tidak terpakai oleh pemiliknya, dipakailah olehnya. Atau saya yang tidak cermat dalam menyimpannya.

Kalau saya biasanya akan menunggu sampai orang yang ada di situ sampai habis. Baru sandal terakhir yang kebetulan warnanya sama, baru saya ambil. Kalau beda warna, akan saya tinggalkan. Saya akan pulang “nyeker”. Bagi saya itu tidak masalah dan ini yang saya ajarkan ke anak-anak saya. Insyaallah akan ada gantinya.

Hikmahnya, Saya harus berlatih ikhlas manakala kehilangan barang. Apabila sudah terlatih, maka kehilangan barang yang secara nominal bisa jadi lebih besar dari sandal jepit, saya akan enteng saja. Ringan di hati.

– Kendal, 09122017

#30WDC_Jilid10_Squad 7_Day14

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: