Saving Mr. Bank dan Secangkir Kopi Tubruk

Melihat film Saving Mr. Banks menjadi pilihan hiburan kami di liburan hari minggu kemarin. Sebuah film yang cukup berat untuk kucerna, meski banyak ragam makna didalamnya.

Sebagaimana istilah yang disampaikan oleh Dee, bahwa karya adalah anak jiwa, maka Saving Mr. Banks menunjukkan pada kita bagaimana eksistensi sebuah karya berawal dan terukir dalam lubuk jiwa pembuatnya. Mary Poppins oleh P.L. Travers, Saving Mr. Banks oleh sang sutradara John Lee Hancock yang dibantu penulisan naskahnya oleh Kelly Marcel dan Sue Smith. Dan tentu saja tidak bisa dikesampingkan adalah Walt Disney dalam melakukan loby supernya selama 20 tahun untuk menfilmkan Mary Poppins.

Mencermati dan menikmati film ini maka kita seakan dibawa ke masa lalu dan masa sekarang dengan harmonisasi alur kehidupan yang sejatinya terus saja berulang.

Film yang diperankan secara apik oleh Emma Thompson dan Tom Hanks ini mampu menggugah rasa.

Di satu sisi, Dee dalam kumpulan cerita dan prosa satu dekade di buku Filosofi Kopi, khususnya dalam nukilan paragraf tetang kopi tubruk, menyatakan bahwa kopi tubruk mencerminkan orang yang lugu, sederhana, tapi sangat memikat kalau kita mengenalnya lebih dalam. Menurut Dee melalui karakter Ben yang dia hadirkan, kopi tubruk juga tidak peduli penampilan, kasar, membuatnyapun sangat cepat.

Kemudian apa hubungan antara Saving Mr. Banks dan Kopi Tubruk?

Menurutku di dalam keduanya dapat kita temukan sebuah benang merah bahwa kita tidak bisa menilai seseorang dari sisi luarnya saja. Karakter keras, tegas namun cenderung kaku, masa bodoh, semaunya sendiri yang ada pada diri P.L. Travers. Demikian pula kopi tubruk yang secara fisik tidak menarik, terasa “kumuh”, berserakan tak beraturan dibandingkan dengan saudara kopi lainnya yang memiliki nama yang indah seperti cappuccino, coffe latte , espresso dan yang lain sebaginya.

Seringkali dalam perjalanan hidup, kita sering dipertemukan oleh orang-orang dengan karakter-karakter tersebut. Dan seringkali kita enggan untuk berinteraksi dengannya. Bahkan secara tidak sadar terlontar melalui lisan kita, koq ada orang yang judesnya minta ampun seperti itu.

Namun, ternyata dibalik itu ada mutiara tersembunyi didalamnya, bahwa sejelek apapun tentu ada kelebihan didalamnya. Sebagaimana P.L. Travers dengan Mary Poppins-nya dan kopi tubruk dengan aromanya. Hal ini menyadarkan dan menegaskan kepada kita bahwa janganlah kita menganggap remeh orang lain, siapapun itu. Sejelek apapun satu sisi seseorang, selalu ada saja sisi baiknya. Intinya, tidak ada sesuatu yang sempurna. Bahkan, nabi yang suci saja bisa berbuat kesalahan bukan?

Pelajaran lain adalah sesulit dan serumit apapun karakter orang yang kita hadapi, kalau kita mendekatinya dengan penuh “cinta” maka tidak ada yang mustahil untuk dapat “menaklukkannya”, meski barangkali dalam konteks Walt Disney ada misi bisnis didalamnya. Tapi, masa 20 tahun bukanlah waktu yang sebentar bagi seseorang yang mau menghargai akan pentingnya sebuah proses dan orang yang dimatangkan jiwanya melalui problema kehidupan yang dilaluinya.

Sebagaimana sikap Rasulullah terhadap yahudi buta yang begitu membencinya, namun dengan cinta beliau, dengan kesabaran beliau menyuapinya, akhirnya menumbuhkan cinta si Yahudi Tua kala Rasulullah telah meninggalkannya.

Pelajaran ini menunjukkan bahwa “cinta” akan menghantarkan kita menuju kedamaian meski terkadang pula dengan “cinta” juga akan menyampaikan kita pada kebencian, kebencian yang bahkan teramat dalam.

Maka dari itu, sebagaimana hadis Rasulullah yang menyatakan bahwa “Cintailah orang yang kamu cintai sewajarnya, boleh jadi pada suatu hari kelak ia akan menjadi orang yang engkau benci. Dan, bencilah orang yang kamu benci sewajarnya, boleh jadi pada suatu hari kelak ia akan menjadi orang yang engkau cintai. Maka seimbangkanlah paradigma dan cara pandang kita.

Hal lain yang dapat aku temukan dalam kisah Saving Mr. Banks adalah bawa menulis itu tidak melihat dari bakat seseorang. Menulis adalah ungkapan ekspresi dari seseorang akan suasana jiwanya. Kalau kita mau mencermati, kebanyakan penulis akan menghasilkan anak jiwanya berdasarkan pengalaman masa lalunya. Bisa pengalaman pribadinya atau bisa juga sesuatu yang sangat diimpikannya akan tetapi tidak bisa menjadi sebuah realita, hanya di angan-angannya. Sebagaimana ilmuwan menulis makalah atas penemuannya dari melakukan percobaannya yang berulang-ulang dan tentunya menganalisa dan mencatatnya.

So… menulislah sekarang juga.

Tak usah memperdulikan sebagus atau sejelek apapun tulisanmu karena tulisan pertamamu itu akan menjadi anak tangga pertama untuk dilalui oleh anak jiwamu.”

End… Alhamdulillah, akhirnya bisa menulis lagi … 🙂

— Saat Jeda, dalam suasana mendung terasa….

 

Ever POSTED ON DECEMBER 2, 2014 

Advertisements

One thought on “Saving Mr. Bank dan Secangkir Kopi Tubruk

Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: