Berkendara

Sekolah anak saya kebetulan berjarak lumayan jauh dari rumah, sekitar 10 km. Setiap harinya saya menggunakan fasilitas roda dua untuk menghantarkan anak untuk belajar menuntut ilmu disekolahnya. Meskipun jauh, menurut saya hal tersebut menjadi pilihan terbaik untuk pendidikan anak-anak saya.

Berkendara, terutama bagi saya yang tinggal di daerah pantura Jawa Tengah, memerlukan energi dan rasa tersendiri dalam melakukannya. Sebagaimana sudah di ketahui bahwa ternyata kematian akibat kecelakaan di jalan yang ada di Indonesia menjadi salah satu yang tertinggi di dunia dan termasuk penyebab kematian terbanyak selain penyakit-penyakit yang saat ini sudah jamak seperti jantung dan komplikasi lainnya. Tentu informasi ini menjadikan kita untuk lebih hati-hati dalam berkendara. Selain itu ada beberapa pelajaran yang bisa saya dapat dari perjalanan di atas moda transportasi roda dua.

Melatih Kedisiplinan

Dengan berkendara, sebetulnya bisa melatih kedisiplinan kita. Saya berusaha untuk selalu lengkap dengan atribut berkendara seperti helm misalnya. Termasuk untuk anak saya. Saya melihat banyak orang tua yang kadang lalai memperhatikan keselamatan anaknya dengan tidak memakaikan helm. Tentu alangkah baiknya kita menggunakannya tanpa harus melihat apakah ada  atau tidaknya petugas polisi saat itu. Kemudian, dengan adanya rambu-rambu. Kita bisa membiasakan menaatinya. Sebagai contoh adalah adanya lampu merah. Sepi atau tidak, siang atau malam, sebaiknya kita berusaha menaatinya. Pun saya amati di rambu perlintasan kereta api, seringkali saya melihat banyak yang melanggar palang pintu karena merasa kereta masih lama lewatnya. Sudah pengalaman, alasannya. Hal tersebut sebaiknya tidak dilakukan.

Dengan berusaha menaati rambu lalu lintas dan kelengkapan berkendara, insyaallah akan melatih kedisiplinan sekaligus keselamatan kita. Sering kita lihat peringatan yang diberikan kepada kita bahwa kecelakaan diawali dari ketidakdisiplinan kita dalam berlalu lintas.

Melatih Rasa

Berkendara saat ini, saya melupakannya berbeda dengan beberapa tahun yang lalu. Seringkali terjadi konflik di dalam perjalanan akibat ketidksabaran dalam berkendara. Semua sepertinya serba terburu-buru. Sehingga menurut saya sebaiknya kita mengalah. Artinya berkendara dengan tenang. Saya pernah menghitung perbedaan kecepatan dengan waktu tempuh kita. Ternyata dengan kecepatan yang diatas rata-rata, selisihnya hanya sekitar 10 – 15 menit saja untuk waktu yang dibutuhkan ke tempat tujuan. Bukannya lebih baik kita berangkat 10 – 15 menit lebih awal dari pada terburu-buru. :-). Selain itu kita juga bisa melatih rasa akan kesempatan kita. Mau disalip silahkan walaupun terkadang menyalipnya tanpa etika. Barangkali mereka ada keperluan yang lebih penting untuk diselesaikan.

Demikian sekelimut mengatakan berkendara, setidaknya bisa untuk memenuhi deadline menulis hari ini. Hahaha.

#30WDC_Jilid10_Squad7_Day13

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: