MOMENTUM

Menyimak tulisan Mas Brili Agung yang membahas tentang mengubah patah hati menjadi royalti, mengingatkan saya akan sebuah film yang berjudul Tenggelamnya Kapal Van Der Widjk yang merupakan adaptasi dari novel karya Hamka. Sebuah film karya sineas Indonesia yang memaksa saya untuk datang ke bioskop sebanyak dua kali, pertama ketika penayangan perdananya dan yang kedua ketika versi extended-nya diputar.

Benang merah dari kedua kisah diatas adalah bangkitnya mereka berdua dari “keterpurukan”. Yang satu patah hati karena profesi penulis yang sangat dicintainya tidak dianggap sebagai profesi yang menjanjikan dan memiliki masa depan cerah. Adapun yang satu lagi benar-benar patah hati manakala cintanya tidak kesampaian. Keduanya memiliki kecerdasan dan kemapuan mengolah momentum “patah hati” mereka menjadi sebuah karya yang mampu mengolah rasa para pembaca bukunya.

Oiya, ada satu kisah lagi yang kebetulan dicontohkan oleh mas Brili Agung dalam tulisannya tersebut yaitu kisah Raditya Dika. Akibat kata “najis lo” dari cewek teman SD-nya ketika dia mencoba mencurahkan isi hatinya, ternyata menjadi sebuah karya yang membuat Raditya Dika menjadi penulis dan komika yang di kenal di Indonesia.

Di sini saya tidak akan membahas mengenai royalti ataupun akibat ekonomi dari kesuksesan mereka bertiga, namun saya akan berfokus pada penyikapan mereka terhadap momentum buruk yang kebetulan mereka hadapi.

Menurut hemat saya, kejelian mereka untuk mengubah momentum tersebut terntunya tidak terjadi begitu saja. Saya meyakini akan adanya rangkaian-rangkaian peristiwa sebelumnya yang mampu menjadi pondasi bagi bangunan keuletan, kerja keras dan semangat mereka. Peristiwa-peristiwa kecil di masa lalu tetap akan mempengaruhi keberhasilan mereka dan momentum itu hanyalah trigger semata. Pelajaran yang dapat saya ambil adalah bahwa kita harus senantiasa mengambil sisi positif dari setiap peristiwa yang kita hadapi, baik ataupun buruk. Sebab, Allah memberikan kita sebuah peristiwa, cobaan atau kebahagiaan tentu ada hikmahnya. Tinggal bagaimana menyikapinya.

Menyikapi momentum, terutama yang menyakitkan dan mengecewakan kita, ada baiknya kita belajar dari tulisan Massimiliano Allegri yang berjudul The Principal di laman The Players Tribune (sebuah laman yang mengakomodasi para olahragawan termasuk pelatih dan pemain untuk menuangkan tulisan-tulisannya). Dari tulisannya, poin yang bisa saya tangkap dari pelatih yang membesut Juventus ini adalah “jadikan peristiwa yang menyakitkan menjadi momentum untuk kembali bangkit.”

 

– Kendal, 07122017

#30WDC_Jilid10_Squad7_Day12

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: