KOSONGKAN GELAS

Salah satu poin materi yang disampaikan mas Rezky Firmansyah di pembuka ajang 30WDC adalah kosongkan gelas yang menurut beliau adalah prinsip wajib para pembelajar. Prinsipnya ketika mengikuti ajang ini, dalam perjalanannya jangan banyak tanya dan komplain. Metode/sistem ini sudah berjalan lama dan terbukti berhasil.

Kosongkan gelasnya, jadilah seperti anak TK. Mengapa belajar mereka? Terdapat sebuah percobaan yang dilakukan diantara anak TK, Insinyur, manajer dan para lulusan MBA berupa tes kreatifitas dengan menggunakan permen dan spagheti. Setelah percobaan tersebut diikuti oleh ribuan orang dan dilakukan selama beberapa tahun, ternyata diketahui bahwa anak TK jauh lebih unggul dibandingkan yang lainnya sedangkan lulusan MBA memiliki peringkat terendah. Mengapa hal tersebut bisa terjadi? Disimpulkan bahwa anak TK bisa lebih unggul dikarenakan mereka langsung mengerjakan ketika tugas diberikan. Manakala gagal, mereka akan mencoba dan mencoba lagi tanpa berpikir banyak.

Dengan mengosongkan gelas maka kita dituntut untuk belajar banyak hal dari banyak orang, siapapun itu baik masih pemula maupun sudah expert. Terbukti bahwa memasuki hari ke tujuh dimana program feedback di mulai sekaligus hasil stalking saya, ternyata pesertanya tidak hanya pemula seperti saya saja namun juga penulis-penulis lama (alumni) yang bahkan diantaranya sudah menelurkan karyanya berupa buku. Wah, jadi minder nih. ๐Ÿ˜Š

Makanya, sementara saya nyimak saja dulu untuk sesi feedback. Tak layak rasanya sebagai pemula untuk mengkritisi tulisan orang lain yang bagus-bagus sedang kualitas tulisan saya masih amburadul baik dari EYD, diksi ataupun dari aspek lainnya. Malu. Hehehehe. Tapi, feedback ini penting untuk pengalaman baru bagi saya. Banyak hal-hal yang bisa dipelajari dari feedback-feedback yang telah disampaikan. Alhamdulillah.

Selanjutnya, menurut Mas Rezky, 30 hari bukan hanya tentang kuantitas, tapi juga kualitas. Namun, dengan mengukur kemampuan diri, untuk sementara ini saya akan berfokus pada kualitas dulu sesuai misi awal saya mengikuti ajang ini, menjadikan menulis menjadi sebuah habit. Mengapa? Memasuki hari ketujuh ini godaan mulai berat. Ujian dalam bentuk yang beraneka ragam mulai menggoda. Mulai terasa berat untuk menulis. Kalau dituruti, maka bisa drop out saya di tengah jalan. Sayang rasanya, sebab ajang ini menarik dan sangat bermanfaat bagi saya karena didalamnya banyak hal penting dan baru yang bisa didapatkan.

Di saat kebuntuan itu melai menerpa, maka teringat tulisan saya pertama, freewriting. Maka, menulis sajalah. Kata dosen saya dulu, dari pada sibuk membaca cara menulis, maka menulislah. Keep fight. Kata Yus R Ismail yang dituangkan dalam bukunya, Pohon tidak Tumbuh Tergesa-gesa. So, bersabar dan berjuanglah. ๐Ÿ˜Š

 

– Kendal, 02122017

#30DWDC_Jilid10_Squad7_Day07

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: