Antara Terbaik dan Menarik

Meme menarik di belakang truk ataupun kendaraan umum sering saya jumpai dalam perjalanan berkendara saya baik yang tulisannya kocak maupun yang serius. Terkadang meme seperti itu bisa sejenak menghilangkan kecapekan yang kita rasakan manakala melakukan perjalanan yang lumayan jauh apalagi ditambah dengan kemacetan yang harus dihadapi. Salah satu meme menarik di belakang angkot ketika saya melakukan perjalanan ke kota Semarang selasa kemarin adalah “Jangan ninggalin yang TERBAIK demi yang MENARIK”.
Saya tidak paham apa sebenarnya maksud pemilik angkot tersebut memilih rangkaian kata tersebut. Namun, bagi saya itu menarik dan setidaknya secara tidak langsung telah ikut mengingatkan diri saya akan sebuah makna. Mensyukuri apa yang telah ada, apa yang telah kita miliki selama ini. Terlebih, mensyukuri istri saya yang telah dengan setia mendampingi perjalanan hidup saya selama hampir 14 tahun ini.
Kesediaan beliau menyertai hari-hari saya yang tentunya tidaklah selalu mulus perjalanannya membutuhkan energi pengorbanan dan kesabaran yang luar biasa. Banyak riak disana-sini. Saya sebagai suami belum sepenuhnya dapat menjadi pendamping yang baik bagi beliau. Meskipun saya sudah berusaha, namun terkadang atau bahkan seringkali ada saat-saat tertentu menyakiti perasaan beliau. Pernah suatu kali manakala saya sedang masa “hibernasi”, saya bahkan tidak melakukan apapun. Padahal dalam kondisi capeknya beliau sudah menyiapkan sarapan dan kopi di pagi hari, menyiapkan anak berangkat sekolah bahkan sekaligus mengantarkannya. Beraktifitas pula. Belum lagi saya memarahi dan mendiamkan beliau hanya karena permasalahan kecil sebetulnya, setelah saya sadari sekarang ini. Sebuah masalah yang sebenarnya dapat diselesaikan apabila dikomunikasikan dengan baik. Atau sebenarnya sayapun bisa mengalah, seandainya saya dalam pihak yang benarpun, sebagaimana nasehat pernikahan awal saya dari seorang kyai di Jombang dulu. Salinglah mengalah. Namun, seringkali nasehat itu terlupakan karena ego diri yang lebih dikedepankan. Astaghfirullah.
Yang harus saya syukuri adalah kesediaan beliau mau memahami, mendampingi, membersamai hari-hari saya. Proses kesabaran itu telah beliau tunjukkan dengan mau menerima diri saya apa adanya. Alhamdulillah dua anak kamipun juga menjadi anak-anak yang baik dalam didikan beliau. Bahkan, pernah suatu ketika ibu saya berkata kepada saya saat ngobrol berdua, bahwa  disyukuri betul punya istri yang baik dan rajin ibadah. Anak-anakpun juga baik, yang dipondokpun juga kerasan meskipun jaraknya jauh dan mesti membutuhkan perjalanan seharian apabila ingin menjenguknya. Alhamdulillah.
Tentu istri saya juga memiliki banyak kekurangan dan juga kesalahan. Yang terkadang ketika melihat perempuan yang lain yang lebih baik (dalam pandangan harfiah) saya membanding-bandingkannya dalam hati. Berandai-andai sifat itu ada dalam istri saya. Namun, saya berusaha menyadari bahwa istri sayapun juga manusia biasa yang tak luput dari kealpaan. Tidak ada manusia yang sempurna.
Ya, pesan “jangan tinggalkan yang terbaik demi yang menarik” sangatlah tepat kiranya. Kita harus meyakini bahwa Allah telah memilihkan pendamping yang terbaik bagi kita, maka syukurilah itu. Yang menarik tentu lebih banyak karena itu sifat manusia, selalu kurang dengan apa yang ada sehingga mudah tergoda dengan hal-hal yang lebih menarik disekitarnya disaat sudah memiliki pendamping hidupnya. Fenomena perceraian dan perselingkuhan akhir-akhir ini sangatlah mengkhawatirkan. Saya tidak tahu persis penyebabnya, namun yang jelas nasehat kyai saya yang harus saling mengalah dan juga senatiasa mensyukuri apa yang ada perlu terus kita jaga.
Saya hanya bisa berdoa, semoga rumah tangga saya dan keluarga di seluruh Indonesia bisa terus terjaga. Senantiasa introspeksi diri dan memantaskan diri untuk pendamping kita karena kita sudah berjanji ketika akad diucapkan di awal pernikahan. Khilaf itu mungkin ada, segera sadari dan bertobat untuk tidak mengulanginya.
Rumput tetangga selalu kelihatan kelihatan lebih hijau. Kecantikan, kekayaan, kepandaian dan kebaikan itu relatif, tergantung kita melihat dari sudut pandang mana.
Selamat beraktifitas, semoga keberkahan senatiasa menaungi hari-hari kita. Aamiin.
– Kendal, 30112017
#30WDC_Jilid10_Squad7_Day05

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: