Belajar dari Kicau Mania untuk Spirit menulisku

Hari ini adalah hari pertama saya mengikuti tantangan untuk bergabung dengan 30DWC yang digagas oleh Inspirator Academy. Menulis merupakan salah satu tantangan yang perlu saya taklukkan melalui program ini. Harapannya dengan menjadi peserta 30DWC saya dapat membiasakan diri untuk menulis setiap hari dan semoga menjadi sebuah habit salami bagian perjalanan hidup saya. Ini kesempatan langka, pikirku.

Kemudian apa hubungan menulis dengan kicau mania?

Di seberang depan rumah saya, beberapa bulan terakhir ini ramai dikunjungi oleh para penggemar burung yang sering di sebut sebagai kicau mania. Setiap rabu sore, minggu sore dan jum’at malam mereka akan berdatangan dari berbagai daerah termasuk dari luar kota. Bahkan, pada saat musim hujan yang sudah mulai seperti sekarang ini, ternyata tidak menyurutkan langkah mereka untuk menyalurkan hobi mereka.

Ada beberapa hal yang menarik dari perilaku mereka yang bisa saya ambil hikmahnya.

Yang pertama adalah totalitas. Ketika mereka sudah memutuskan untuk memelihara burung kicau yang harganya tidak dapat dikatakan murah, saya amati mereka begitu totalitas dalam merawat, memandikan, membersihkan kandang dan memberi makanan terbaik untuk peliharaannya. Bahkan ada suplemen khusus untuk memperindah suaranya. Kalau menurut saya, (sepertinya) lebih sayang burung mereka daripada keluarganya (anak dan istri). Ini sebuah anomali. Namun, totalitas mereka perlu saya contoh dalam hal menulis. Mengapa? Untuk urusan hobi seperti itu saja mereka demikian semangatnya, kenapa untuk menulis sebagai sesuatu yang dicita-citakan dapat memberikan pencerahan bagi orang banyak melalui kombinasi huruf saya tidak totalitas? Oleh karena itu, saya perlu untuk terus mengingatkan diri dan menata niat demi misi yang tidak hanya berorientasi duniawi semata, namun insyaallaah juga mengandung misi akhirat. Masa kalah semangat/totalitas? 🙂

Yang kedua, semangat kebersamaan. Saya amati, ketika mereka berkumpul terlihat begitu akrab tanpa memandang strata sosial mereka. Sama halnya kalau kita amati terhadap komunitas lainnya, semisal komunitas vespa. Saya berharap, melalui komunitas 30DWC inipun saya bersama teman-teman lainnya bisa membangun semangat kebersamaan dalam dunia literasi ini. Semakin menumbuhkan asupan-asupan positif melalui tulisan sehingga setidaknya bisa meminimalisir anasir hoax yang saat ini meracuni keseharian kita khususnya melalui media sosial kita.

Demikian sebagai pembuka 30DWC, meskipun sedikit, yang terpenting saya sudah memulai. Semoga istiqomah. Aamiin.

– Bantul, Jogjakarta

#30DWC_Jilid10_Squad7_day02

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: