HARDIKnas

Sekali lagi saya perlu menyampaikan bahwa saya termasuk orang yang tidak suka dengan peringatan hari-hari tertentu. Terkesan formalitas semata. 

Entahlah..

Dalam tulisan beberapa waktu lalu yang berjudul “yang mengubah segalanya” saya sudah menyampaikan bahwa sejatinya hari ibu itu diejawantahkan dalam hari-hari yang kita lewati. Tidak semata diseremonialkan setiap tanggal 22 desember saja.

Pun hari ini…

2 Mei juga diperingati menjadi hari Pendidikan Nasional (HARDIKNAS). Lalu pantaskah kita merayakannya jika kita masih saja saling meng-HARDIK? Itukah buah pendidikan yang kita dapat selama ini?

Ya, saling menghardik, mengumpat dan mencela seakan setia menghiasi lini masa media sosial kita saat ini.

Bukan hanya orang biasa, orang-orang cerdik pandai pun melakukannya. 

Bahkan para profesorpun demikian, baik orang biasa yang mempunyai kapasitas berpikir sebagaimana seorang profesor ataupun profesor sungguhan yang ternyata kian hari semakin menunjukkan kapasitas dia yang sebenarnya melalui cuitan-cuitannya.

Bukannya semakin tinggi kemampuan ilmu seseorang maka dia semestinya akan semakin tengah hati?

Entahlah, saya tidak tahu apa sebenarnya yang sedang terjadi di negeri ini.

Saya lelah mencermatinya… hehehe…

Hanya saja saya senantiasa berdoa, semoga ada sebagian dari bangsa ini yang tak pernah lelah dan berputus asa dalam menjaga negeri ini agar mempunyai izzah melalui kerja nyata mereka, kerja yang sungguh-sungguh dan kerja visioner yang penuh keikhlasan. Terang-terangan ataupun dalam sunyi.

Selamat Hari Pendidikan bagi yang merayakannya. 

Kalau saya akan merayakan spirit Ki Hajar Dewantara setiap hari dengan menjadi seorang pembelajar. Sebab, banyak hal yang saya tidak tahu dan saya perlu belajar karenanya.

Stay Hungry.. Stay Foolish…

Tol Trans Jawa Bahkan Solo Surabaya, Perlukah?

Ini hanya sekedar curahan hati saya saja. Jangan dianggap serius.

Toh, itu bukan wewenang saya? Ngapain warga biasa membahasnya? Khan sudah berjalan, buang-buang pikiran dan waktu saja. Pasti ada manfaatnya.

Barangkali ada yang berpendapat demikian.

Tapi, sekali lagi ini hanya sekedar curahan pendapat saja. Biar tidak jadi “udun”. 

Ceritanya sedang belajar menjadi reporter dadakan dan melatih untuj membiasakan menulis dengan ide yang diperoleh dimana saja. Hahaha…

***

Seperti yang saya tuliskan beberapa hari yang lalu tentang perjalanan melintasi sebagian mega proyek tol Trans Jawa yaitu ruas tol Ngawi – Kertosono, eh Wilangan. Dalam tulisan ini saya akan melanjutkannya.

Manakala saya melintasinya, meskipun sudah diresmikan dan diberlakukannya bebas biaya selama dua minggu, ternyata tidak menjadikan para pengguna jalan untuk berlomba mencobanya. Atau itu hanya opini saya saja. Atau barangkali memang yang melintas pada hari itu memang sedikit.

Entahlah…

Hanya saja, manakala saya mencoba masuk dari GT Ngawi kemudian keluar GT Madiun, kemudian masuk lagi GT Madiun dan keluar di GT Caruban ataupun masuk GT Caruban dan keluar di Wilangan, ternyata memang sepi.

Dari hal tersebut saya mencoba menganalisa kecil-kecilan ala saya.

Jalur Solo Surabaya sudah akrab dalam bagian hidup saya.

Tinggal di Kendal dan pernah kuliah di Malang, moda transportasi melalui jalur tersebut menjadi pilihan utama bagi saya. Baik itu untuk yang kelas non ekonomi ataupun kelas ekonomi.

Barangkali diantara anda pernah mendengar tentang bis super cepat yang bernama Sumber Kencono. 

Bis tersebut menjadi salah satu pilihan favorit pengguna dikarenakan cepatnya dan biasanya relatif ontime. Meskipun, ancaman nyawa menjadi taruhannya.

Kalau saya sih pasrah aja, khan kematian bisa menjemput kita dimana saja kapan saja dan dengan cara apa saja.

Saking “seringnya” mengalami kecelakaan, bis tersebut sempat beberapa ganti nama hingga sekarang.

Tapi saya masih tetap saja menggunakannya, ha ha ha…

Cepat dan ekonomis meskipun sekarang lebih sering menggunakan bis non ekonomi ketika bersama istri dan anak. Kalau sendiri, itu menjadi pilihan terbaik. He he he…

Trus Hubungannya dengan tol apa?

Ceritanya mana?

Tulisan lain saja ya…

#30DWC_Jilid12_Squad6_Day18

– Kendal, 11 April 2018

Cheat Melawan Korupsi, Adakah?

Sebenarnya, berat bagi saya menuliskan topik yang satu ini. Karena apa? Jujur saja, saya sendiri belum sepenuhnya terbebas dari hal tersebut,.Meskipun begitu, saat ini saya tengah berupaya sepenuh jiwa agar terhindar darinya.Now and then. Semoga Allah meridhoi. Aamiin.

Tapi tidaklah mengapa. Tulisan ini setidaknya sebagai #selfhealing bagi saya untuk penyakit membahayakan ini.

Tapi karena sudah ditentukan mentor, ya mau gimana lagi… he he he…

***

Saya sedang tidak ingin membicarakan tagar #2019GantiPresiden yang tengah viral itu. Biarlah orang lain saja yang membahas dan membicarakannya. Berat. Saya hanya sebatas prihatin saja, mengapa Pak Jokowi terkesan begitu “emosional” dalam menanggapinya. Titik.

Yang ingin saya bicarakan adalah PR yang masih harus diselesaikan oleh pemimpin kita (presiden), siapapun itu yang akan terpilih nanti di tahun 2019 nanti.

K.O.R.U.P.S.I.

Mengapa harus bicara korupsi?

Ternyata, dari pengamatan saya, momok yang satu ini terus menghantui dalam proses bernegara di negeri ini, siapapun presidennya. Dari jaman Baheula hingga jaman Now.

Membicarakan perihal korupsi ibarat kita sedang bermain game tanpa kita tahu “cheat”nya..Tidak akan pernah berakhir. Seperti yang pernah saya alami manakala memainkan game Plants vs Zombies, dulu.

Yup, dulu. Setelah saya “memahami” game PVZ tersebut secara mendalam dan ternyata harus ada “cheat” alias kunci rahasia agar bisa “menang”.Dan akhirnya saya lebih sering baca-baca daripada main game yang membuat saya pernah kecanduan manakala ber-gadget ria. Ha ha ha…

Dikarenakan menjadi candu, maka perlu bagi kita untuk menghindarinya dikarenakan sifatnya yang merusak.sendi-sendi kehidupan.

Beneran loch. Dalam tulisan yang di muat di tirto.id yang berjudul “Catatan Buruk Korupsi di Dunia”, PBB saja sampai bilang bahwa korupsi merupakan sebuah bentuk kejahatan yang serius.

Dan berakibat pada melemahnya pembangunan sosial dan ekonomi masyarakat. Tidak tanggung-tanggung, $2,6 trilyun lenyap akibat tindakan korupsi dimana angka tersebut setara dengan 5 persen dari PDB global.

Akankah kita terus tak acuh dengan hal mengerikan ini?

Barangkali saat ini kita belum begitu merasakan dampaknya yang masif. Tapi, bagaimana dengan  anak cucu kita? Akankah mereka akan menanggung “beban masa lalu” yang ditinggalkan oleh generasi sekarang? Kita? Terlepas kita pelakunya atau kita-nya yang terkesan “membiarkan”?

Beban itu (di negeri kita) tidak hanya utang lho, yang katanya saat ini konon menurut ekonom INDEF sudah mencapai 7.000 trilyun sebagaimana yang dirilis kompas dalam berita yang berjudul “Indef : Utang Luar Negeri Indonesia Capai 7.000 trilyun”. Tapi juga beban berupa dampak sikap mental koruptif yang ada dan celakanya sifatnya laten, seringkali tidak disadari.

Lalu, apa sebenarnya korupsi itu?

Makhluk yang satu ini ternyata tidak hanya menjadi musuh di negeri ini. Sebetulnya korupsi juga  menjadi musuh bersama di belahan bumi manapun. Oleh karenanya semenjak berlakunya konvensi anti-korupsi yang disepakati PBB pada 31 Oktober 2003, sampai hari ini tanggal itu diperingati sebagai Hari Anti Korupsi Internasional.

Banyak definisi yang menjelaskan tentang kosakata yang satu ini. Silahkan di eksplore sendiri. Ada versi ensiklopedia bebas (disini) atau versi KPK yang bisa dilihat (disini). He he he…

Namun yang jelas…

Apabila saya cermati tentang pemberantasan korupsi di negeri ini, laksana orang yang tengah berjalan dalam sebuah labirin. Banyak jalan yang tidak berujung. Padahal apabila dilaksanakan dengan sepenuh hati, sebenarnya ada jalan yang bisa ditempuh untuk memberantasnya, meskipun itu sulit.Harus sepenuh jiwa. Tsah

Salah satu faktor yang menurut saya dominan adalah penanganannya lebih terpaku pada oknum, bukan pada sistem manajemennya.

Ada beberapa upaya yang sebenarnya pernah dilakukan oleh figur atau lembaga yang terbukti efektif, namun hal itupun dengan mudahnya pudar manakala belum menjadi sebuah habit. Dan lebih ironis lagi, sistem yang mulai di bangun tersebut ternyata dibuat menjadi berantakan kembali manakala berganti sosok pemimpin. Tragisnya hal tersebut terjadi di tataran kepemimpinan manapun.

Saya melihatnya, belum ada persepsi yang sama dan bagaimana penyikapannya di benak para pemimpin ataupun calon pemimpin.

Itulah mengapa, sering kita jumpai banyak orang ketika masih belum menjabat apa-apa, sosok itu begitu kritisnya, namun menjadi diam seribu bahasa manakala dia diberikan tampuk jabatan. Memang tak acuh atau benar-benar lupa alias amnesia? Saya tidak tahu.

Coba cermati deh, mana yang konsisten dan mana yang “amnesia” tersebut dengan hati yang jernih tanpa memihak. Banyak yang seperti itu baik dari pihak eksponen maupun oponen.

Itu berdasarkan pengamatan saya sih, enggak tahu kalau kamu.

Lalu, bagaimana sebenarnya kita menyikapi kondisi tersebut? Adakah cheat yang bisa kita gunakan sebagai bypass?

Menurut hemat saya, setidaknya ada 3 (tiga) formula yang bisa tempuh alias “cheat” rahasia dalam menangani korupsi tersebut. (Sekali lagi menurut saya, banyak orang yang lebih ahli dalam hal ini).

Pertama adalah PAHAM.

Yup, menurut saya ini kunci pertama. Tidak sekedar hafal atau tahu sebatas perkataan saja. Akan tetapi memahami akan maknanya terlebih dahulu.

Langkah ini perlu kita tempuh dikarenakan belum samanya persepsi diantara kita. Bahkan sesama ahli hukum lulusan kampus-kampus favorit saja bisa berbeda dalam memahami makna dari korupsi itu sendiri. Masing-masing berdasarkan persepsi sendiri, dan lebih sayang lagi apabila itu didasarkan pada “kepentingan” yang umumnya bersifat jangka pendek. Sebuah “pesanan”.

Oleh karena itu, menurut hemat saya, hal untuk memahamkan terkait korupsi ini menjadi PR besar bagi penulis-penulis terkenal dan jago story telling agar masyarakat bisa dengan mudah mencerna dan memahami apa sebenarnya hakikat korupsi tersebut tentang korupsi dan bahayanya. Baik ditujukan untuk orang dewasa maupun anak-anak.

Kedua adalah membangun HABIT.

Membangun habit ini tidak sekaligus dengan hal-hal berat ataupun besar. Kita bisa memulainya dari hal kecil dan yang ringan saja. Apabila kita dapat melakukannya secara bertahap dan konsisten, Insya Allah hasilnya akan luar biasa. Diluar ekspetasi kita. Apalagi dimulai dari anak-anak.

Ada sebuah cerita yang jujur saja saya lupa memperolehnya kapan dan dimana.

Dikisahkan ada sepasang orang tua yang mencoba mengajarkan kejujuran terhadap kedua anaknya. (Agar mental korupsi tidak tercetak di benak-anak-anaknya).

Cara melatih kedua kakak beradik tersebut adalah dengan memahamkan semejak awal tentang hak masing-masing. Dalam hal ini terhadap kepemilikan akan sebuah barang.

Apabila sang kakak memiliki sepotong roti di kulkas, misalnya. Maka sang adik (dan tentu bagi ayah dan ibunya) tidak boleh mengambil dan memakannya tanpa ijin. Apabila sudah bilang dan diperbolehkan untuk mengambilnya, baru boleh mengambilnya.

Demikian juga sebaliknya.

Dan ternyata itu dapat berhasil membangun mental positif bagi anak sekaligus orang tua yang mengajarkannya.

Kemudian, ada satu contoh menarik agar kebiasaan ataupun habit positif ini menjadi sebuah watak yang terinternalisasikan dalam sikap dan perilaku mereka manakala dewasa.

Dan ini saya sudah membuktikannya.

Dalam sebuah postingan facebook mas Miftah Ridho Anshari, yaitu dengan meNULISkannya. Dari tulisan biasa, dampaknya menjadi luar biasa.

Yup, Tulisan tangan ya. Bukan diketik atau di print.

Beliau benar-benar memberikan sebuah pengalaman yang nir teroritis. Jauh dari berbagai teori seperti VAK, The Power of List, The Power of Three (five, seven) ataupun terori-teori habit yang lain. (Untuk lebih lengkapnya, silahkan di cermati di lini masa facebook beliau).

Kuncinya, praktek. Dan tidak sampai 5 menit koq !

Dan saya terkejut, ada perubahan terhadap kebiasaan sebelum tidur anak saya (usianya baru 7 tahun, kelas 1 SD).

Suatu malam saya mencoba mempraktekkannya. Tidak semua list seperti yang dicontohkan oleh Pak Miftah. Saya mencoba satu dulu, dari kebiasaan sebelum tidur.

Wajahnya berbinar sekali saat itu.

Saya beri contoh menulis, dia menirukannnya di kertas berbeda. Dan kami tempel berdampingan di tempat yang mudah terlihat.

Persiapan Sebelum Tidur <1. Pipis dulu, 2. Sikat Gigi Dulu, 3. Wudhu dulu, 4. Berdoa dulu dan terakhir (5), matikan lampu>

Saya mencontohkannya dan dia mengikuti.

Dan malam-malam berikutnya saya tinggal mengingatkan apa yang sudah di tulis dan ditempel di tempat yang mudah dilihat.

Alhamdulillah, dia bisa menetapinya meskipun dalam keadaan capek sekalipun.

Pernah suatu ketika kami mengajaknya jalan-jalan dan pulang larut, sekitar jam 10. Sesampainya di rumah, dia sudah “teler”.

Ajaibnya, ketika saya bisiki, mengingatkan tentang apa yang sudah di tulis dan di tempel, dia mau melakukannya.

Subhanallah.

Saya pikir, ini bisa diaplikasikan untuk mengikir watak koruptif semenjak dini seperti yang saya contohkan dari kisah sebelumnya.

Membangun watak melalui habit ini menurut saya sangat mujarab.

Banyak contohnya. Masih banyak orang yang tulus dan baik di negeri ini. Banyak kita jumpai, apabila kita peka “membacanya”.

Kedua adalah memulai dari DIRI SENDIRI.

Kelihatannya jurus terakhir ini klise banget. Tapi, sebenarnya powerfull banget loch.

Bisa jadi terkesan klise dan tidak pernah dimulai dikarenakan kurangnya memahami diri sendiri.

Coba ingat-ingat, perilaku koruptif yang pernah kita lakukan selama ini.

Mengurus KTP, nitip? Coba dech diurus sendiri.

Perpanjangan STNK, nembak? Coba dech proses sendiri.

Jam kerja belum selesai tapi hasrat pulang dulu? Coba dech, tahan dulu.

Dan lain-lain.

Masing-masing kita yang lebih paham.

Insya Allah mudah koq. Kata AA Gym, mulai dari yang kecil, dari diri sendiri dan sekarang juga.

Jangan lupa, terus istighfar dan berdoa. Beneran nich. Serius.

***

Akhirnya, sebaiknya kita merenungi diri sebelum lantang berteriak korupsi dan nyinyir terhadap pelaku korupsi. Terlepas benar atau tidak mereka melakukannya. Disadari atau memang karena sebuah keterpaksaan.

Apakah kita benar-benar bebas korupsi atau sama saja bahkan lebih parah dari mereka. Berapapun nilai korupsi yang kita lakukan.

Semuanya kembali pada diri kita. Tinggal memilih. MAU atau TIDAK.

Selamat malam…

 

Perbatasan Malang – Kediri,9 April 2018

19.59

​Manakala Plagiasi Mulai Membudaya, Kita Harus Ngapain?

Dulu, ketika sedang heboh-hebohnya ANF dengan beberapa tulisan plagiatnya dan begitu viral hingga membuat sosok fenomenal tersebut di undang oleh Presiden, saya tak acuh.
Menuliskannyapun tidak tertarik. Meski hanya sekedar status singkat saja.

Saya hanya mencoba berprasangka baik, bahwa dia memang ditakdirkan oleh Allah untuk melalui proses tersebut agar dikenal oleh seluruh publik di Indonesia. Sepenggal perjalanan kisah hidupnya tersebut barangkali dapat diperbandingkan dengan pepatah Arab yang berbunyi Bul ‘alaa zamzam Fatu’raf,yang artinya kencingi sumur zam-zam, maka engkau akan terkenal.

Terlepas hal tersebut disadari atau tidak oleh AFI. Entahlah.

Namun, akhirnya kini saya tergerak untuk menulis tentang plagiarisme ini (meskipun, barangkali saya juga pernah melakukannya di saat kuliah dulu). Setidaknya sebagai bahan perenungan dan introspeksi bagi diri.

Pilihan untuk ikut nimbrung membahasnya, semula berawal ketika saya membaca salah satu blog seorang kawan yang tengah membahas mengenai kejadian serupa. Judulnya Skill, Koq Njiplak ! 

Jujur saja, saya tidak tahu akan kabar yang sedang menjadi bahan perbincangan di kalangan penulis atau orang-orang yang  tengah belajar menulis, jika saja saya tidak membaca blog tersebut. (sampai-sampai saya japri penulis blog tersebut agar tahu sosok tersurat yang ada di dalam tulisannya, he he he..)

Ternyata, ED namanya.

Setelah saya mencoba mengelaborasi dari beberapa sumber daring, tahulah saya bahwa dia telah melakukan sebuah tindakan nekad dan tidak terpuji.  Tidak tanggung-tanggung, 24 karya sastra. Hanya agar bisa terkenal secara instan. Atau ada alasan lain, saya tidak tahu. Entahlah.

Oiya, satu contoh lagi terkait dengan plagiasi yang sempat viral terlepas benar atau tidaknya dan sayangnya dilakukan oleh seorang pejawat public yang juga seorang  akademisi dari salah satu kampus favorit negeri ini.  AA nama beliau. Apesnya, integritas yang dibangunnya selama ini luntur hanya karena tulisan yang dimuat dalam rubrik opini Kompas tersebut. 

Sebagaimana halnya ANF, kasus yang menimpa ED dan Pak AA disamping ada yang mencaci ternyata ada pula yang membela. Saya berusaha melihat dari sudut pandang yang berbeda.
Tidak Ada Ide yang Orisinil 100 %

Lantas bagaimana kita menyikapinya?

Menurut saya, tindakan yang dilakukan mereka tidak dapat berdiri sendiri. Kondisi dan sistem yang ada turut mempengaruhi. Untuk itu, agar kita terhindar darinya, selain kita patri dalam diri untuk menjauhinya, perlulah kita mengetahui dam memahami apa sebenarnya plagiarism itu. Salah satu tulisan yang membahasnya ada dalam tulisan yang berjudul “Panduan Anti Plagiarisme” yang dirilis oleh UGM layak kita simak. Semoga dapat kita baca dan resapi bersama.

Selain itu, bisa jadi awalnya semua yang dilakukan oleh mereka dikarenakan oleh mampetnya ide atau dalam dunia kepenulisan disebut dengan “writers block”. Sebuah mitos yang selama ini menghantui para penulis dan orang yang sedang bertransformasi menjadi seorang penulis dimana mereka merasa blank, miskin inspirasi dan peristiwa tak enak lainnya di tengah hasrat menulisnya yang tengah membumbung tinggi.

Sesuatu hal yang sebetulnya bisa dihindari jika kita tahu caranya, dan ini diulas dengan lengkap dalam salah satu mantra yang dituliskan oleh Brili Agung didalam bukunya yang berjudul “Kitab Penyihir Aksara”.

Janganlah plagiat, tapi ambillah gagasan orang lain dari mana saja asalnya, bisa dengan mengobrol, media sosial, nguping meja sebelah, dan lain sebagainya.

Memang, tidak ada di dunia ini yang orisinil 100 %. Semuanya saya kita melalui proses yang dinamakan ATM (Amati Tiru dan Modifikasi). Namun, para pelaku plagiasi itu tersesat di langkah terakhir sehingga proses yang dilaluinya bukan ATM melainkan ATP GaJudaPen, Amati, Tiru Plek  … dan Ganti Judul dan Penulisnya… hehehe)

Padahal ide itu jika kita mau menggalinya,  bukan sesuatu yang susah-susah amat sebetulnya.

Kita bisa simak tulisan Mas Eka Kurniawan yang menurut saya juga dapat memberikan sudut pandang berbeda tentang “kebuntuan ide” yang berjudul “Bagaimana Penulis Mendaur-Ulang Cerita Penulis Lainnya Menjadi Kisah baru yang Memikat”.

Kemudian ada saran yang diberikan oleh Mr. Toyota dalam prinsip ke-12 dari Toyota Way yang berbunyi “Pergi dan lihat sendiri untuk memahami situasi yang sebenarnya”.

Insya Allah itu akan memperkaya.  Serap energi yang ada di alam, imbuh Brili Agung di dalam bukunya.

Dan bukankah jelas termaktub dalam Alquran QS Al Kahfi ayat 18 yang redaksinya sebagai berikut :  Katakanlah (wahai Muhammad), “Sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Rabbku, sungguh habislah lautan itu sebelum kalimat-kalimat Rabbku habis (ditulis), meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula). 

Dan QS Luqman 27 yang  berbunyi  “Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya kalimat Allâh tidak akan habis ditulis.”

So, masih bingung mau nyari inspirasi dalam menulis? 

Saran saya, beli dan baca bukunya mas Brili dech. Cekidot… 

Akhirnya, saya berharap kita tidak mengambil jalan serupa seperti yang dilakukan oleh beberapa contoh yang telah di ulas. Semoga kita tidak seperti yang disampaikan IJP dalam akun twitter-nya manakala menyikapi kehebohan Pak AA, “Ibarat pendaki, ia terjatuh di batu kerikil”. 

Silahkan berimprovisasi tapi tetap sadar diri. Mawas diri kapanpun dan dimanapun.
Perbatasan Nganjuk-Kediri, 7 April 2018. 14.14 WIB

– Sebagai teman pelepas penat perjalanan.

Bandung Selalu Istimewa

Yup, saya melihatnya seperti itu.

Bandung meninggalkan kesan mendalam bagi saya, setidaknya beberapa momentum dimana untuk kesekian kali mengunjunginya.

Terakhir, ketika saya dan rombongan sharing dengan teman-teman Bappeda Kota Bandung. Kantor yang sederhana nan mungil namun think-thank nya berawal dari situ.

Saya jadi tahu manakala Kang Emil meramu impian dan kreatifitas bersama timnya hingga terealisasi Alun-Alun Bandung dengan wajah barunya, Taman Jomblo dan yang lainnya. Dan yang paling saya sukai adalah Cikapundung. Sebuah karya transformatif yang ikonik.

Proses memulai semua itu beserta lika-likunya, saya jadi paham.

Alhamdulillah. Sebuah pengalaman menarik.

Namun, ternyata istimewanya Bandung tidak hanya terpancar dari daerahnya secara fisik.

Selain, penjual kue Bandung yang menghiasi jalanan di tempat saya tinggal, ternyata ada keistimewaan Bandung yang baru saja saya temui.

Sebuah tempat yang ramai dikunjungi dengan konsep menarik, saya temui di sini. Di kota kecil bernama Pare. Sebuah bagian dari Kediri di ujung timur Pulau Jawa. Bahkan sesuatu yang tidak saya temukan di Kota Semarang sebagai ibukota propinsi Jawa Tengah. (Atau saja aja yang kudet ya… Ha ha ha…)

Bandung Mode.

Yup, Pare yang identik dengan kampung Inggris-nya ternyata banyak menyuguhkan hal-hal baru dan menarik bagi saya.

Yang jelas, bisa memompa motivasi saya untuk menulis beberapa judul hanya dalam kurun waktu kurang dari setengah hari. Sekaligus inspirasi-inspirasi yang bisa dijadikan tulisan-tulisan baru.

Sudah, sekian dulu. Bersiap melanjutkan “perjalanan mencari kitab suci” dulu.

Selamat Malam…

Taman Kili Suci, Pare. 7 April 2018.

#30DWC_Jilid12_Squad6_Day17

Keluar dari “Kungkungan”

Mengikuti episode menulis 30 hari tanpa ampun (30DWC) di jilid ke-12 untuk kali ketiga ini ternyata “mengungkung” produktifitas menulis saya.

Berawal dari niat untuk terus menumbuhkan kebiasaan saya dalam menulis, ternyata malah terjadi sebaliknya. Dua kali saya nyaris ke – DO. Apabila malam ini (atau tenggat sebenarnya adalah besok pagi jam 8) tidak menulis tiga (3) tulisan, maka besok benar-benar kejadian DO akan menimpa saya. Dan dengan sepenuh tenaga saya akan menyelesaikannya. Meskipun “perjalanan mencari kitab suci” yang sedang saya tempuh belum sepenuhnya selesai. Tsah…

Terpenting tulis, gak usah mikir yang macam-macam.

Lalu, apa sebenarnya apa titik permasalahan yang membuat saya tersendat dalam menjalani jilid 12 ini? Rapor saya menjadi poin of interest (bagi saya tentunya) dikarenakan ladang yang menguning dan orange alias hasil membayar hutang tulisan. Boro-boro biru manakala tulisan tepat waktu dan sesuatu tema. Ladang berwarna oranye saja, menjadi satu hal yang patut saya syukuri.

Itu semua karena mentor! 

Wadaw, kok jadi menyalahkan mentor sich. 

Enggak … enggak… maaf mas Rezky.

SAYA yang SALAH.

Poinnya adalah “kalau tidak ada target baru, mending tidak usah ikut lagi”.

Itu yang terngiang dalam benak saya.

Nulis apa yang kualitasnya tidak B-aja? Output yang nantinya bisa diramu menjadi sebuah buku, apa ya tema yang menarik?

Itu yang ternyata membebani saya. Menulis yang satu tema itu ternyata berat. Ya, biar kamu saja. Aku mau nulis bebas aja (kecuali yang ditentukan oleh mentor). Hehehe…

Tapi, sebetulnya saya kaget juga. Hampir 2 minggu ini saya bisa konsisten menulis dengan tema membaca. Meskipun dalam kepungan tema-tema yang ditentukan dalam 5 hari terakhir, yang saya ternyata bisa meramu dan mengaitkannya dengan “membaca”, meskipun di tema terakhir akhirnya gagal. Ha ha ha…

Pantes aja, tulisannya menjadi hambar. Bukan dari hati soalnya.

Udah, gak usah disesali.

Terpenting, niatkan kembali untuk melatih kebiasaan menulis setiap hari.

Udah. Gitu aja. He he he…

Pare, 7 April 2018

#30DWC_Jilid12_Squad6_Day16

Perjalanan Melintas 3 Wilayah

Perjalanan melintasi ruas tol yang baru saja diresmikan oleh Presiden Jokowi beberapa hari yang lalu menjadi pengalaman tersendiri bagi saya. Sebuah perjalanan yang mungkin tidak dapat saya ulang kembali karena momennya yang cukup spesial.

Momen apakah itu? 

Momen dimana setiap pengguna tol yang melintas berdasarkan SOP yang ada akan dibebaskan biayanya alias gratis. He he he… Setidaknya untuk durasi dua minggu.

Pada saat membaca berita menjelang peresmiannya, saya sempat bergembira dikarenakan ruas yang bisa dilalui adalah dari Ngawi hingga Kertosono. Artinya, saya akan melewati tiga wilayah sekaligus dengan durasi waktu yang lebih cepat tentunya. Wilayah tersebut adalah Kabupaten Ngawi, Kabupaten Madiun dan Kabupaten Nganjuk.

Namun, ternyata tidak sepenuhnya sesuai dengan ekspetasi saya. Bukan Kertosono sebagai titik akhir perjalanan tersebut, namun hanya sampai Wilangan saja yang artinya melewati kota Nganjuk saja belum.

Tapi tidaklah mengapa. Saya yakin banyak hikmah didalamnya, dan ternyata memang menghiasi perjalanan saya setelahnya hingga hari ini.

Alhamdulillah.

Ada beberapa catatan yang bisa saya tuangkan (setidaknya untuk memenuhi kuota menulis saya di 30DWC biar tidak ter- DO, ha ha ha…) didalam tulisan ini.

Yang menjadi poin adalah terkesan dipaksakannya peresmian tersebut, meskipun dalam beberapa berita yang lalu ditargetkan Pebruari 2018 sudah dapat beroperasi. Dan ternyata memang baru “siap” diresmikan pada 29 Maret kemarin.

Catatan apa saja itu?

(Ini ceritanya sedang belajar menjadi penulis investigatif, he he he)

Pertama adalah masih banyaknya sisa material yang dibersihkan untuk ruas-ruas yang sudah siap, menurut saya. Bahkan beberapa ranting kering sempat saya jumpai.

Yang kedua adalah masih melintasnya orang di jalan tersebut dan untungnya saya memacu kecepatan di batas terbawah. Padahal beberapa hari yang lalu, pasca diresmikan oleh Presiden, masih ditemui beberapa kendaraan roda dua yang melintas sebagaimana diberitakan oleh beberapa media.

Ketiga adalah masih belum optimalnya mesin pembaca kartu tol. Pada saat pertama masuk dari Ngawi, kartu saya terbaca dengan saldo yang relatif masih banyak. Namun di titik keluar kartu saya tidak terbaca. Beruntung antrian di belakang saya hanya ada satu kendaraan yang mengantri. Selain itu masih ada petugas yang membantu menyelesaikan permasalahan yang saya hadapi.

Keempat, masih banyak titik-titik yang ternyata belum sepenuhnya selesai. Terbukti setelah saya melewati permasalahan dengan mesih pembaca kartu, saya harus menyalakan lampu hazard. Masih ada kendaraan yang memindahkan balok-balok beton pengaman. Dan akhirnya sayapun menunggu setidaknya untuk 10 menit. Sesuatu yang aneh menurut saya untuk kejadian di jalan tol. Dan ternyata ruas sebelah yang berlawanan juga masih ada pekerjaan konstruksi, yaitu memadatkan tanah di bagian pinggir.

Kelima, tentang rest area yang belum jadi dan masih banyak lagi apabila terkait dengan faktor non teknis, seperti penentuan tarif dan regulasi yang ternyata masih belum clear.

Demikian Laporan pandangan mata dari jalur tol Ngawi-Kertosono, eh… Wilangan ding…

Semoga menjadi media pembelajaran untuk semuanya saja.

Oiya, pemandangannya indah loh. Swear.

Selamat malam…

Pare, 7 April 2018

#30DWC_Jilid12_Squad6_Day15

#Tema : Perjalanan

Antara Pigura, Buku dan Kisah Cinta Bung Hatta

Pigura

Dua pigura besar terpampang di samping kanan dan kiri meja resepsionis gedung itu. Sosok salah satu proklamator bangsa Indonesia nampak gagah di pigura tersebut. Sekokoh idealisme dan kecintaannya terhadap buku. Itulah mengapa gedung perpustakaan itu berdiri dengan nama beliau, dipersembahkan untuk dedikasi beliau terhadap negeri.

Bung Hatta… ya, Perpustakaan Proklamator Bung Hatta yang berlokasi di Jl. Kristina Bhakti, Gulai Buncah, Bukit Tinggi, Sumatera Barat.

Namun, tak hanya perpustakaan di Bukit Tinggi saja yang menjadi saksi sejarah beliau.

Di Jalan Diponegoro 57 Jakarta Pusat, buku-buku koleksi Hatta juga tersimpan rapi dalam bentuk perpustakaan yang terawat baik di rumah keluarga Hatta tersebut.

Nampak jajaran rak buku yang dipenuhi oleh buku-buku yang pernah dibaca oleh Bung Hatta. Ada pula pigura-pigura yang menghiasi ruangan itu sebagai penyaksi sejarah perjalanan hidup beliau. 

Ya, gambar dalam pigura tersebut menggambarkan begitu banyak cerita dan makna (kalau mau mencermati dan merenunginya). Bukankah ada pepatah yang mengatakan bahwa gambar mewakili 1.000 kata?

Selain itu kita juga bisa menembus dimensi waktu melalui ragam foto yang terpajang rapi dalam bingkaian pigura-pigura yang berada di rumah kelahiran beliau. Kita dapat menapaktilasi kehidupan beliau di rumah yang terletak di pinggir jalan Soekarno-Hatta No. 37, Bukit Tinggi. Ada goresan sejarah yang mendalam , sebab seorang anak bangsa terlahir dan besar didalamnya.

Buku

Muhammad Hatta pertama kali mengoleksi buku pada saat berumur 17 tahun yaitu ketika menempuh Sekolah Dagang di Batavia, sekitar tahun 1919.

Buku-buku koleksi Hatta sangat beragam bahasanya dari bahasa Inggris, Perancis, Belanda hingga Jerman. Ini menandakan kemampuan berbahasa beliau.

Diantara buku-buku tersebut merupakan harta karun yang dibawanya sepulang studi di Belanda. 

Bahkan disaat beliau diasingkan oleh pemerintah kolonial Belanda, beliau tidak mau terpisah jauh dari buku-bukunya tersebut. Semua buku yang jumlahnya sekitar 16 peti dibawanya di Banda Neira sampai Boven Digoel, tempat pengasingannya.

Itulah mengapa, ada satu pernyataan beliau yang sangat terkenal hingga kini yaitu “Aku rela di penjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas”.

Kisah Cinta

Beliau merupakan tipe orang yang pendiam dan tidak banyak berhubungan dengan perempuan.

Bahkan beliau pernah bersumpah bahwa tidak akan menikah sebelum Indonesia bisa merdeka.

Dan sumpah itu ditetapinya tiga bulan setelah beliau memproklamirkan kemerdekaan bangsa Indonesia bersama Soekarno di tahun 1945. Beliau menikahi gadis yang diperkenalkan oleh Soekarno, namanya Rahmi Rachim.

Dan yang menjadi catatan unik adalah mahar yang diberikan pada saat menikah adalah buku hasil tulisan beliau semasa diasingkan oleh Belanda, meskipun beliau dari keluarga yang berada. Judul bukunya adalah Alam Pikiran Yunani.

Mengetahui kecintaan Hatta terhadap buku dan pengetahuan yang dianggapnya lebih berharga daripada harta benda lainnya, teman-teman sejawatnya kerap berseloroh bahwa Rahmi hanya istri keduanya. Semangat istri pertamanya adalah “buku”.

Kisah Cinta Sun Kang

Menumbuhkan kesadaran untuk gemar membaca perlu terus dilakukan agar menjadi budaya yang kuat di lingkungan kita. Setidaknya dimulai dari diri sendiri.

Namun, hal tersebut tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Oleh karena itu, kitapun perlu untuk terus memotivasi diri dengan melihat hikmah di sekitar kita dan membaca kisah-kisah inspiratif yang ada.

Salah satu kisah yang menurut saya mampu menggugah semangat membaca kita adalah kisah cinta SUN KANG YANG. Kisah yang satu ini begitu fenomenal di negeri asalnya, China. Kisah cinta Sun Kang terhadap buku dan gairah membacanya ini sudah berkembang dari mulut ke mulut dan dari generasi ke generasi. Itulah mengapa bangsa China termasuk bangsa pembelajar dan berwawasan luas dikarenakan “doktrin” membaca yang diberikan sedari kecil. Bahkan, ada hadis yang populer (meskipun dhaif) yang menyebutkan bahwa tuntutlah ilmu sampai ke negeri China, menegaskan bahwa China memang negeri pembelajar. Oleh karena itu, kitapun juga harus demikian.

Lalu, seperti apa kisah cinta sejati Sun Kang dengan kegiatan membacanya?

Dikisahkan bahwa Sun Kang hidup pada zaman Dinasti Jin yang berkuasa di kisaran tahun 317 – 420 Masehi.

Kepandaian Sun Kang sudah terlihat semenjak kecil meskipun dia berasal dari keluarga yang sangat miskin (bahkan bisa dikatakan termiskin di wilayahnya) sampai-sampai minyak untuk lampu pun tidak sanggup terbeli oleh keluarganya. Membuat malam-malam yang dilalui keluarga Sun Kang akrab dengan gulita tak bertepi.

Selain itu, Sun Kang juga setiap harinya harus membantu orang tuanya untuk bekerja demi menyambung hidup keluarganya. Dan itu harus dijalaninya sampai malam hingga kelelahan melanda.

Namun, itu semua tidak mengurangi cinta dia terhadap membaca. Dia tetap meluangkan waktu untuk membaca buku yang dipinjamnya dari tetangga sekitar. Dia menyiasatinya dengan membaca ketika sinar rembulan menampakkan diri. Namun, karena keterbatasan sinar rembulan, matanya sering lelah dan tidak dapat membaca dalam durasi waktu yang panjang. Satu yang patut kita jadikan pelajaran, dia senantiasa mengembalikan bukunya tepat pada waktunya.

Hingga suatu hari di musim salju dan sinar rembulan menerangi dengan sangat baik, dia terus menetapi cintanya terhadap buku. Sepulang membaca, dia terjatuh hingga kakinya terluka. Namun ada hikmah dibalik peristiwa tersebut. Ternyata, salju yang padat dapat memantulkan sinar sehingga bisa membuat cahaya lebih terang dari sinar rembulan.

Akhirnya, dia memanfaatkan momen tersebut dengan membaca setiap malamnya di musim dingin yang menyengat. DONG CHUANG yang menjangkitinya, tidak memudarkan rasa cintanya.

Perlu diketahui, dong Chuang adalah semacam penyakit borok di kulit yang biasanya menyerang ketika musim dingin tiba. Dan apabila sudah terserang, maka borok tersebut akan menyebar ke seluruh tubuh dan tidak bisa sembuh sampai dengan musim dingin usai.

Akhirnya, Sun Kang dikenal sebagai ahli pikir yang brilian dan dijadikan penasihat yang baik untuk membangun kerajaan.

***

Demikian kisah cinta Sun Kang terhadap buku dan proses membacanya. Menegaskan bagi kita bahwa cinta apabila dijalani dengan ketulusan maka seberat apapun rintangan yang dilalui dan di hadapi akan terasa ringan dan mampu dilewatinya. Akhirnyapun ada kebahagiaan yang diperolehnya.

Selamat pagi…

– Kendal, 4 April 2018

#30DWC_Jilid12_Squad6_Day13

Makna dan Manfaat Membaca Buku

Ada beberapa cara yang dapat dilakukan oleh seseorang agar dapat memperoleh makna dari proses membaca yang dilakukannya. Cara yang pertama adalah meraih makna melalui proses dari kegiatan membaca itu sendiri . Dengan menggunakan cara ini maka seseorang tersebut tidak berorientasi pada hasil. Sedangkan cara yang kedua adalah mendapatkan makna setelah menjalankan kegiatan membaca dan mendapatkan hasil. Diantara dua cara ini terbukti membaca dengan mengedepankan proses akan lebih efektif dalam memperoleh suatu makna dari buku-buku yang dibaca.

Selain makna yang diperoleh, seseorang yang sudah memiliki kebiasaan membaca (buku) akan memiliki banyak manfaat. Manfaat ini bisa diperoleh secara langsung ataupun secara tidak langsung.

Adapun beberapa manfaat yang dapat diperoleh antara lain:

  1. Menambah kosakata baru seseorang

Semakin banyak jumlah buku yang di baca maka akan semakin banyak pula kosakata-kosakata baru yang akan diperoleh (terutama membaca bahasa asing). Kosakata baru ini akan memberikan manfaat bagi seseorang dalam kehidupan sehari-hari seperti dapat mengartikulasikan, membantu menyampaikan pendapat secara lugas sekaligus dapat meningkatkan kepercayaan diri seseorang dalam berkomunikasi dengan orang lain.

  1. Memperluas pemikiran seseorang

Dari beberapa studi dapat diketahui bahwa seseorang yang memiliki kebiasaan membaca akan memiliki tingkat kreatifitas yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan seseorang yang kurang atau tidak suka membaca. Dengan membaca, maka akan terakumulasi wawasan dan pengalaman-pengalaman yang pada saat tertentu akan berguna dalam menyikapi ataupun mengambil sebuah keputusan. Hal ini akibat dari luasnya berpikir seseorang dari kegiatan membaca yang dilakukan.

  1. Meningkatkan empati seseorang

Manfaat yang lain dari membaca adalah dapat meningkatkan kemampuan seseorang dalam memahami perasaan orang lain. Dengan terasahnya empati tersebut maka kualitas hubungan dengan orang-orang yang ada disekitarnya akan menjadli lebih baik.

Selain yang sudah disampaikan di atas, masih banyak lagi manfaat-manfaat yang dapat diperoleh seseorang dari kegiatan membaca.

Yuk, kita mulai dari diri kita, selembar dua lembar secara rutin dimulai sekarang juga.

Selamat pagi,,,

– kendal, 3 April 2018

#30DWC_Jilid12_Squad6_Day12